Begitu suara itu terdengar, Rangga yang sejak tadi berdiri di samping sambil memperhatikan juga maju selangkah, "Aku juga ikut!"Mendengar itu, Ganendra menoleh dan memandangnya. Sudut bibirnya mengandung sedikit hawa dingin. "Jenderal Rangga sedang terluka parah, takutnya nggak cocok keluar."Rangga mendengus pelan. "Jantung Pangeran Kedua juga baru saja berdebar-debar, 'kan? Pangeran bisa pergi, kenapa aku nggak?"Suasana tegang seketika memuncak. Dengan demikian, satu kalimat Andini yang terucap begitu saja, berubah menjadi perjalanan berempat.Setelah malam tiba, keramaian di Jalan Jimbaran semakin padat. Aneka lampion bersaing keindahan, menerangi langit malam hingga seperti siang.Tawa, nyanyian, dan suara alat musik tiada hentinya, menghadirkan pemandangan kemakmuran yang meriah.Andini dan Rinun berada di tengah, diapit oleh Rangga di satu sisi dan Ganendra di sisi lain. Mereka berjalan dengan susah payah.Sesekali, Ganendra atau Rangga menunjuk ke suatu lampion unik sambil ber
続きを読む