Malam itu Erika tidak tidur.Di meja kerjanya, tersebar foto-foto Raka dari bayi sampai usia sekarang ini. Ada gambar Raka waktu pertama kali bisa jalan, pertama kali masuk TK, pertama kali dapat piala lomba mewarnai. Di sebelahnya, kertas kosong yang kini penuh coretan strategi.Erika bukan perempuan bodoh. Ia tahu Arga tidak mencintainya. Tapi Arga akan mencintai Raka. Dan itu cukup."Kalau aku nggak bisa dapat hatinya, aku pastikan dia nggak bisa lepas dari anaknya," batin Erika. Tangannya gemetar saat menulis poin terakhir di kertas: Buat Arga merasa bersalah seumur hidup kalau ninggalin Raka.Keesokan harinya, pukul 10 pagi.Pintu ruangan Arga diketuk pelan. Erika masuk duluan, menggandeng seorang anak laki-laki kecil. Tubuhnya kurus, kulitnya sawo matang, dan matanya... matanya persis Arga. Bulat, hitam, dengan sorot polos yang bikin dada sesak."Arga, kenalin... ini Raka," suara Erika terdengar lembut, berbeda dari kemarin. Ia berjongkok, mengelus pucuk kepala Raka. "Sayang, it
Last Updated : 2026-05-19 Read more