Udara di ruangan itu terasa berat dan lembap. Shania masih duduk di lantai dingin, dengan tangan yang kini sudah mulai terasa sakit akibat ikatan tali. Pintu berderit pelan sebelum terbuka, dan langkah kaki berhak tinggi menjejak lantai semen dengan bunyi yang khas —begitu tajam, seperti detak jam kematian.“Sudah lama sekali, Shania.” Suara itu lembut, tapi membawa dingin yang menusuk.Shania mendongak. Seketika napasnya tercekat. Di bawah cahaya redup lampu gantung, sosok perempuan itu berdiri dengan senyum tipis di bibir. Rambut panjang hitam legamnya terurai, wajahnya masih sama seperti dulu —cantik, elegan, dan berbahaya.“Maura,” ucap Shania nyaris tak percaya. “Kau … yang menyuruh mereka menculikku?”Maura tersenyum, berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Shania. “Kalimatmu terdengar seolah aku seorang penjahat,” ujarnya santai, matanya tajam menatap lurus. “Padahal aku hanya ingin berbicara. Hanya itu.”“Dengan cara seperti ini?” Shania memejamkan mata, berusaha menahan
Last Updated : 2025-11-13 Read more