Tidak pasti berapa lama dia sudah memutar kursi itu ke kanan dan kiri. Jarinya bertautan seiring tungkai jenjangnya dilebarkan, duduk layaknya seseorang yang tengah dilanda rasa malas. Punggung tangannya ditekuk ke pipi, sebagi penumpu kepala. Saking tenangnya lamunan itu, Abimana bahkan tak menyadari kehadiran Alvian Lim di hadapan dia. Sampai kursi yang diduduki rekannya itu berderit, dia seketika menengadah serta mendengkus. "Berat banget, Bro?""Sorry,Vin. Aku enggak lihat kamu datang." Abimana duduk tegak sambil menautkan tanggung jemarinya. "Masalah apa sih, Bim?" Gelisah itu belum mereda. Abimana baru saja mengembuskan kasar napasnya. Dia sempat menengok ke permukaan meja, menggeleng-geleng lalu berkata, "Rumit, Vin. Masalah di rumah. Aku mau cerita ma kamu juga gak enak--masih dugaan soalnya. Cuma, Ajeng jadi kepikiran. Aku sengaja datang telat hari supaya bisa dengerin istri di rumah. Baru nyampe sejam yang lalu, dan sama sekali enggak bisa pegang apa-apa. Kepalaku pusing
Terakhir Diperbarui : 2025-12-08 Baca selengkapnya