"Benar, aku Marwanto." Senyuman Marwanto mengandung niat membunuh.Ewan berkata, "Jelek sekali."Marwanto begitu marah sampai janggutnya bergetar. 'Sialan, kamu ini bisa bicara seperti manusia atau nggak?'Ewan melanjutkan, "Aku pernah bertemu Mariadi, Magana, dan Makuta. Mereka juga jelek, tapi kamu lebih jelek dari mereka."Marwanto benar-benar murka.Ewan tersenyum dan berkata, "Sayang sekali, waktu Makuta mati, kamu nggak ada di tempat. Itu benar-benar menyedihkan."Sret! Marwanto sontak berdiri. Wajahnya dingin saat dia meraung marah, "Bocah, membuatku marah nggak ada untungnya buat kamu.""Kalau aku nggak memancing amarahmu, apa kamu nggak akan membunuhku?" tanya Ewan balik.Marwanto menyahut, "Entah kamu memancingku atau tidak, aku tetap akan membunuhmu."Ewan tertawa ringan. "Nah, itu dia. Toh kamu ingin membunuhku, jadi sebelum bertarung, aku buat kamu kesal dulu. Menurutmu itu nggak menarik?"'Menarik apanya? Menarik kepalamu!' Wajah Marwanto semakin muram."Kudengar kamu tel
Read more