Tiba-tiba, suara Master Hampa terdengar dari dalam pagoda di atas tebing, "Dharmadaya, tamu terhormat sudah tiba. Kenapa kamu lalai menjamu orang?""Ya, ucapan Guru memang benar. Maaf atas kelalaian saya."Dharmadaya memberi hormat dengan penuh hormat ke arah tebing, lalu berkata kepada Ewan, "Ewan, akan kuantar kamu naik.""Silakan, Master."Begitu kata-kata Ewan berakhir, Dharmadaya langsung bergerak.Terlihat dia menarik napas dalam-dalam, lalu tubuhnya melesat ke udara. Kelima jarinya membentuk cengkeraman seperti kait besi untuk mencengkeram dinding batu. Gerakannya sangat lincah. Dalam sekilas, dia sudah melesat naik belasan meter dengan santai.Jelas terlihat bahwa teknik panjat tebing Dharmadaya sangat terlatih.Setelah naik belasan meter, Dharmadaya menunduk dan melihat Ewan masih berdiri di dasar tebing dengan dahi berkerut. "Ewan, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Dharmadaya.Ewan menunjuk ke arah tebing dan menjawab jujur, "Aku sedang memikirkan, bagaimana caranya naik
Read more