Pagi itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak bel masuk berbunyi, beberapa siswa berprestasi dari berbagai kelas tampak berkumpul di depan ruang guru. Mereka adalah siswa-siswi yang mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi internal untuk menentukan siapa yang akan mewakili sekolah dalam Olimpiade Matematika tingkat berikutnya. Di antara mereka, ada Alina. Gadis itu datang dengan seragam yang rapi, rambut tertata sederhana, dan sebuah tas berisi alat tulis serta beberapa buku catatan. Wajahnya terlihat tenang. Tidak ada lagi sorot mata murung seperti beberapa waktu lalu, ketika pikirannya masih dipenuhi penyesalan tentang kepergian Kevin ke Amerika Serikat. Kini, Alina kembali menemukan semangatnya. Ia memiliki tujuan yang ingin dicapai. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu meraih sesuatu dengan usaha sendiri, sekaligus membangun masa depan yang bisa dibanggakannya. Dan jauh di sudut hatinya, ia masih menyimpan sebuah impian yang belum pernah ia ceritaka
Read more