“Angkat gaunmu dan layani aku di sini.” Anna gemetar, matanya melebar. Suaranya tercekat di tenggorokan, “Di-di sini?” “Ya, di sini.” Kaiden bergumam serak, hasratnya seolah tak tertahankan lagi. Ia menjilat telinga Anna dan satu tangannya menangkup payudaranya yang hangat dibalik gaun. “Kau keberatan?” “Apa kau sudah gila?!” Tidak ada yang bisa Anna pikirkan selain kegilaan pria itu untuk melakukan seks di sini, sementara sorakan para warga Don terdengar di luar. “Ya, aku memang gila,” gumam Kaiden. Dan untuk membuktikan ucapannya, tangannya sudah berpindah ke pusat tubuhnya. “Tidak—” kalimat Anna terputus, digantikan oleh suara rintihan yang tidak ia inginkan. “Tidak di sini, Kaiden.” “Sungguh? Kau tidak menginginkannya?” Kaiden menyelipkan jarinya ke dalam celana dalamnya, menggodanya di bawah sana. Anna mendesah dan buru-buru membekap mulutnya. Kaiden menyelipkan jarinya lebih jauh, menyentuh pintu masuknya yang sudah basah. “Lihat, kau juga menginginkan ini, Sayang
Dernière mise à jour : 2026-01-19 Read More