“Kakimu sudah sembuh rupanya.” Anna menoleh dengan terkejut. Kaiden sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan penampilan kotor, berdebu, dan kusam. Ada beberapa bercak darah yang terlihat di seragamnya. Pandangan Anna bergerak turun, ke tangan kiri Kaiden yang berdarah. Dia mengepalkan tangannya dan jari-jarinya sepenuhnya berwarna merah. Namun, Kaiden tidak terlihat kesakitan. Justru, ekspresinya terlihat senang. “Suamimu sudah pulang. Apa kau hanya akan berdiri di sana?” Anna melompat turun dari atas kursi. Sore itu, ia awalnya ingin mencoba salah satu posisi menembak yang ia baca di buku Kaiden. Sayang sekali, si pemilik buku sudah muncul. Anna tidak menyangka Kaiden akan pulang hari ini. Ia pikir, Kaiden akan tinggal di barak lebih lama. “Bukankah kau merindukan suamimu ini, istriku tersayang?” Suara Kaiden terdengar sangat manis. “Kau tidak mau memeluk atau menciumku?” godanya, menaikkan satu alis. Alih-alih mencibir Kaiden, Anna justru mendekat. Ia be
Baca selengkapnya