Malam semakin larut, tetapi hujan sudah reda, hanya menyisakan titik-titik air yang masih menetes di genting rumah. Di kamar sederhana itu, Sara duduk bersandar di sisi ranjang, memeluk bantal dengan wajah sendu. Sesekali ia mengusap pipinya yang masih basah, tetapi air matanya seperti tak kunjung habis.Pintu kamar diketuk pelan.“Sara, boleh Ayah masuk?” Suara Harold terdengar lembut dari luar.Sara cepat-cepat menghapus sisa air mata di pipinya. “Masuk saja, pintunya tidak dikunci.”Pintu terbuka, Harold masuk dengan langkah tenang. Ia membawa segelas teh hangat, lalu meletakkannya di meja kecil di samping ranjang. Setelah itu, ia duduk di kursi kayu, berhadapan langsung dengan putrinya.Mata Harold memandang penuh kasih, meski jelas ada kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik sorot matanya.“Ayah tidak akan bertanya terlalu jauh,” ucap Harold pelan. “Tapi Ayah tahu, kau tidak akan pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini kalau bukan karena sesuatu yang besar.”Sara menunduk, ja
Huling Na-update : 2025-09-08 Magbasa pa