Orion duduk di kursi, tubuhnya masih terasa lemah akibat pukulan Yunika, tapi matanya menyala dengan kemarahan yang sulit dikendalikan. Ia menatap langit-langit ruangan seolah mencari kekuatan di sana, tapi yang muncul hanyalah rasa frustrasi yang semakin menguasai dirinya. “Nona Yuni… hanya milikku,” gumamnya, suaranya serak, tapi penuh tekad. Kata-kata itu tidak hanya untuk Ben Zenus, tapi juga untuk dirinya sendiri, sebagai pengingat bahwa ia tidak boleh menyerah. Di luar, malam telah benar-benar turun. Lampu-lampu luar kota Cepius berpendar lembut, tapi Orion tak peduli pada keindahan itu. Hanya satu hal yang ada di dalam pikirannya, Yunika. Gadis itu, dengan keberanian dan keteguhannya, telah membuat Orion merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa kagum, campur marah, dan tentu saja—cinta. Namun cinta itu bukan cinta biasa. Ia tahu bahwa mencintai Yunika berarti siap menghadapi badai yang mungkin menghancurkan seluruh hidupnya.
Last Updated : 2026-05-14 Read more