“Sayang,” panggil Maya, lembut. “Aku sayang kamu.” Kata-kata itu tidak teatrikal; sederhana, ditaruh pelan di antara mereka, lalu dibiarkan tenggelam.Irwan menarik napas yang dalam. “Aku juga. Aku...” Dia berhenti, merasakan sesuatu mengendap di dadanya yang sejak lama pecah dalam macam-macam rasa. “Aku ingin kita terus begini. Kita berdua ada.”Maya mengangguk kecil. Dia meraih tangan Irwan, menautkan jari-jari mereka. Kulit menyentuh kulit, tenang. Mata Maya naik ke langit-langit. Napasnya melembut. Di kejauhan, dunia masih berisik, pengaturan mereka masih kompleks. Tapi di sini, malam ini, arus sudah reda, menyisakan hangat yang tidak ingin cepat disapu.Maya menatap langit-langit, pikirannya melayang pada perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Dua kali sesi dengan Karyo dan Ratih, bersama Irwan mengamati, telah mengubah sesuatu dalam dirinya. "Say," dia memecah keheningan,
Last Updated : 2026-01-22 Read more