Alesha tersenyum tipis, sebuah senyuman kelelahan namun penuh syukur. "Terima kasih banyak, Zira. Jujur, tadi sore saat Karin rewel karena tumbuh gigi, aku hampir saja mematikan laptop ini dan menangis di pojok kamar. Aku merasa otakku sudah buntu. Tanpa ajakanmu untuk begadang bersama malam ini, mungkin file ini hanya akan berhenti di draf ketiga tanpa ada kemajuan.""Jangan bicara begitu," potong Zira sambil menatap mata Alesha dengan tulus. "Kita sudah melewati badai yang jauh lebih besar dari sekadar skripsi, Alesha. Kita sudah melewati drama Mama Olivia yang gila itu, kita sudah melewati masa-masa di mana kita hampir kehilangan arah. Jika kita bisa selamat dari itu semua, maka skripsi ini hanyalah sebuah kerikil kecil yang harus kita tendang bersama-sama. Aku ingin kita memakai toga di hari yang sama, berfoto bersama Papa, dan menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pemenang."Alesha mengangguk setuju, ia kembali mendapatkan sedikit suntikan energi dari kata-kata Zira. Namun,
Baca selengkapnya