MasukAlesha sering bermain ke rumah sahabatnya sejak kecil. Tapi bukan Zira yang membuatku ingin terus datang kembali ... Melainkan ayahnya. Rayhan Mahardika. Duda. Dokter. Tampan. Dingin. Tak pernah membuka hati pada siapa pun. Tapi Alesha tahu, di balik tatapannya yang tenang, ada sesuatu yang diam-diam ingin meledak. Dulu, Rayhan hanya melihat Alesha sebagai anak kecil. Tapi sekarang, Alesha sudah tumbuh menjadi wanita. Dan datang ... untuk membuatnya jatuh dalam dosanya sendiri. Lalu malam itu pun tiba. Keduanya hanya berdua. Tak ada suara lain. Tak ada yang bisa menghentikan. Tatapan itu berubah. Nafasnya berubah. Dan saat Rayhan menyentuh Alesha untuk pertama kalinya ... ... apakah itu akan menjadi awal dari sebuah cinta yang tak boleh tumbuh? Atau justru ... kehancuran yang tak bisa dihindari?
Lihat lebih banyakJika Alesha 'mempertahankannya', itu artinya ada rahasia besar, bukan sekadar anemia. Zira kini terjebak di antara tiga rasa sakit: Pengkhianatan Persahabatan (Alesha menghancurkan ikatan mereka), Kekecewaan Ayah (Rayhan, yang ia puja, dituduh predator), dan Kebohongan Keluarga (Alesha berbohong padanya, dan Ayahnya, Arif, juga membohongi Zira tentang keseriusan kondisi Alesha).Zira menatap Alesha. “Ayahmu bilang kamu hanya anemia,” kata Zira, suaranya lemah, mencoba mencari jalan keluar dari konfrontasi yang brutal ini.Alesha menghela napas, terlihat sangat lega karena Zira tidak terus mendesak soal kehamilan. “Tentu saja dia bilang begitu. Ayahku paranoid, Zira. Dia tidak mau aku dan Om Rayhan … Kami tidak mau ada masalah lagi. Dia hanya ingin masalah ini cepat selesai. Aku hanya butuh fokus, Zira. Aku harus lulus,” kata Alesha, mengambil draf skripsinya. “Aku janji, jika aku sembuh dari anemia ini dan lulus, kita bisa perbaiki semuanya.”Zira melihat ketegasan di mata Alesha.
Zira langsung menuju inti masalah, ia tidak punya waktu untuk berdrama. “Gosip itu, Lesha. Gosip yang Mama sebarkan. Kamu hamil anak Ayahku, Rayhan?”Alesha menarik napas dalam-dalam, sebuah tindakan yang terlihat seperti ia sedang menarik kembali semua emosinya. Ia mengingat strategi yang telah disepakati bersama Arif: Jangan pernah mengaku pada siapa pun. Bertahan pada alibi stres dan anemia.“Tidak, Zira. Itu bohong. Gosip itu dilebih-lebihkan Tante Livia,” jawab Alesha, berbohong dengan mata yang tegas, menahan diri untuk tidak menangis. “Aku hanya kelelahan dan stres berat karena skripsi dan breakup dengan Rayhan. Ayahku (Arif) mengunciku karena dia panik dan paranoid. Dia takut Om Rayhan kembali menggangguku. Kamu tahu Ayahku sangat posesif.”Zira tidak percaya. Ia melihat wajah Alesha yang pucat, bibir yang kering, dan matanya yang terlalu sering berkedip. Kemudian, pandangan Zira tertuju pada meja samping. Di sana, tergeletak botol Prenatal G-Vit—vitamin kehamilan dengan l
Zira tiba di kompleks apartemen sederhana, tempat Alesha diasingkan oleh Arif. Kompleks itu adalah benteng kecil dari kesunyian mahal, dengan pengamanan yang ketat dan efisien. Zira tahu, security di sana sangat ketat dan hanya patuh pada satu nama: Arif. Ia tidak bisa menggunakan rayuan atau ancaman; ia harus menggunakan senjata terbesarnya: citra sosial dan kemampuannya memanipulasi kebanggaan seorang ayah.Ia memarkir mobilnya agak jauh dari gerbang utama, sebuah langkah strategis agar kedatangannya tidak tercatat terlalu formal. Zira kemudian berjalan menuju pos security utama. Ia sudah mengubah penampilannya, kini mengenakan setelan blazer semi-formal dan membawa tas kerja, berpose seolah ia baru saja menghadiri pertemuan penting yang tidak bisa ditunda. Wajahnya dipoles dengan senyum cerah dan penuh percaya diri yang ia pelajari dari Ayahnya—senyum seorang wanita yang mengendalikan kehidupannya sendiri.“Selamat malam, Om,” sapa Zira kepada petugas security yang berjaga, nada
Arif segera memanggil Dr. Dian, dokter kandungan proxy Alesha. “Drokter Dian, Anda harus sangat berhati-hati. Rayhan sedang menyerang Livia. Livia akan mencari bukti. Saya butuh laporan medis Alesha secara rutin dan akurat. Pastikan dia tidak stres. Dan yang paling penting: Pastikan tidak ada bukti kehamilan yang bocor! Jaga rahasia ini seperti nyawa Anda sendiri. Jika Rayhan berhasil membekukan aset Livia, itu akan menjadi keuntungan besar. Saya akan mengendalikan perang ini dari belakang,” perintah Arif. Arif kini harus bermain di dua sisi: menutupi kehamilan Alesha (agar Rayhan tidak punya kartu negosiasi) dan membiarkan Rayhan dan Livia saling menghancurkan reputasi (untuk keuntungannya). Ia adalah dalang yang sempurna.Arif kembali ke apartemen Alesha. Ia melihat Alesha sedang belajar, terlihat lelah, tetapi patuh. Wajah Alesha pucat, tetapi matanya terlihat fokus pada buku. “Kamu sudah tahu soal Rayhan dan Livia?” tanya Arif dingin. Ia berharap Alesha panik, tetapi responnya d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan