Kepala Raisa terasa berat dan kacau, tetapi pikirannya masih cukup jernih. Dia mengerti Bravi bertanya kenapa dia suka sosok dirinya yang terkendali itu.Tanpa ragu, dia mengungkapkan pikiran terdalamnya, "Karena kau membuatku teringat rumus matematika, yang teliti, sempurna, indah, teratur, dan merupakan kebenaran yang nggak bisa dibantah."Bagi Raisa, rumus matematika yang sempurna seperti kitab suci, yang tidak boleh dihina. Namun sesekali, Raisa mendambakan untuk menyaksikan kehancurannya, melihatnya hancur berkeping-keping, hanya untuk membangunnya kembali dalam bentuk yang teratur.Pengendalian diri Bravi yang rapi itu mengingatkan Raisa pada hal itu, menyamakan dia dengan rumus matematika, bagi Raisa itu adalah pujian besar. Tidak tahu Bravi mengerti atau tidak, jadi dia menegaskan sekali lagi, "Aku sangat, sangat suka.""Aku mengerti."Rasa suka yang diucapkan Raisa sangat menyentuh Bravi, dia tidak sepenuhnya yakin apakah ini pemikiran aslinya atau hanya omong kosong saat ma
Baca selengkapnya