"Aku sudah bilang berkali-kali, tapi kau tetap nggak mau dengar. Apa salahku?" Angga mengerutkan alisnya, tidak mengikuti apa yang ingin didengar Yumi, tanpa emosi, dia hanya bertanya datar, "Kau suka sama Bravi, tapi apa itu berarti dia harus suka kau? Kenapa harus gitu?"Angga hanya bisa memaksanya menghadapi kenyataan berulang kali, "Yumi, kalau kau sama Bravi memang ditakdirkan bersama, itu pasti sudah terjadi dari dulu. Tapi selama bertahun-tahun, dia memperlakukanmu seperti orang asing. Seharusnya kau sudah menyerah. Kalau kau nggak mau berhenti berharap, kalau bukan kau, siapa lagi yang akan sakit hati?"Dia melihat wajah Yumi menggelap, namun tetap menghiburnya, "Sebagai manusia harus punya kesadaran diri, hal yang nggak bisa dipaksakan, harus belajar untuk dilepaskan. Supaya hidupmu nggak terkuras sama hal yang sia-sia. Yumi, ingat ini, kau itu lebih penting dari segalanya. Seberapa pun hebatnya Bravi, kalau mengejarnya cuma bawa penderitaan, itu nggak sepadan."Namun kata-kat
Read more