Antonio tertawa lepas, menarik Liana berdiri. "Ya udah, ya udah, aku diam. Tapi perutmu kan laper, masa mau marah-marah terus?"Liana mendengus, tapi akhirnya mengikuti langkah Antonio menuju lemari untuk mengambil pakaian. "Ganti baju dulu, jangan pakai handuk gitu ke dapur.""Nggak ada yang lihat, ini rumah sendiri," jawab Antonio cuek."Arlion ada di luar, Antonio!""Ah, pria menyebalkan itu mah nggak perlu dilihat," balas Antonio, tapi tetap mengambil celana dan kausnya.Sementara di dapur, Liana berdiri dengan mata berbinar melihat peralatan masak lengkap bergaya Italia. Marta dan Odeta, dua koki paruh baya yang ramah, menatapnya dengan cemas."Nyonya Liana, janganlah," ujar Marta dengan aksen Italia kental. "Tuan Arlion pasti marah kalau tamu sampai memasak di dapur sendiri."Liana tersenyum, sudah memegang spatula. "Tenang saja. Kalau Kak Arlion marah, nanti aku lempar dia pakai spatula ini."Odeta tertawa kecil, tapi masih ragu. "Tapi, Nyonya....""Dia adikku, biarkan dia mema
Terakhir Diperbarui : 2026-03-03 Baca selengkapnya