Richard Sherman tidak langsung merespons ultimatum Knox. Bukan karena ia meremehkannya, justru sebaliknya. Pria seusia itu telah menghabiskan puluhan tahun membaca pasar, manusia, dan krisis. Ia tahu satu kesalahan paling fatal dalam negosiasi, adalah bereaksi terlalu cepat terhadap sesuatu yang terasa personal. Knox telah membuatnya personal, dan Richard tidak berniat terpancing. Ia hanya menutup layar ponselnya, berdiri dari kursi kulitnya, lalu menekan tombol interkom. “Panggil Adrian. Sekarang. Dan jangan lewat sekretaris.” Lima belas menit kemudian, Adrian duduk di seberangnya dengan tablet di tangan, wajah profesional yang dipaksakan untuk tetap tenang di tengah semua krisis yang bertubi-tubi. “Berikan data,” ucap Richard tanpa basa-basi. “Aku ingin angka, bukan opini.” Adrian pun langsung paham. Ia memunculkan grafik demi grafik seperti nilai kontrak Knox saat ini, estimasi kenaikan jika diperpanjang, potensi kerugian jika Knox benar-benar memutus kontrak, dan
Last Updated : 2026-01-26 Read more