Perahu karet militer membelah air Teluk Jakarta dengan kecepatan brutal. Angin dingin dari laut menerpa wajahku, menusuk kulit, tetapi aku mengabaikannya. Setiap sensasi dingin itu adalah pengingat bahwa aku masih hidup, dan ini bukan akhir. Di belakangku, Tirtayasa menyeringai di kegelapan. Agen Satu, seperti patung yang diukir dari granit, duduk di sampingnya, senapan serbu tersembunyi di bawah jaketnya yang tebal. Bayu Permana, insinyur malang itu, meringkuk di lantai perahu, memejamkan mata, mungkin berharap ini semua hanya mimpi buruk yang segera berakhir. Aku menoleh ke belakang, menatap Bayu. Aku harus berbicara, tidak hanya untuk menjaga sandiwara ini tetap hidup, tetapi juga untuk mendapatkan informasi vital. "Permana," panggilku pelan, suaraku nyaris tertelan deru mesin. Dia tersentak. "Aku butuh kau fokus. Kita akan menghadapi Quantum Lock Damar. Jika ada kesalahan sekecil apa pun dalam script bootmu, semuanya hancur," kataku. "Jangan libatkan dia dengan sandiw
Read more