LOGINRaina, di hari ulang tahunnya yang ke-25, diculik dan disiksa. Dia diselamatkan secara misterius oleh seorang pria dengan luka di dahi, yang memperingatkannya untuk tidak percaya siapa pun. Kecurigaan Raina tertuju pada ayahnya, seorang pengusaha sukses, dan tunangannya, Nara. Penyelidikan Raina mengungkap rahasia Proyek Alpha, sebuah sistem kecerdasan buatan berbahaya yang melibatkan ayahnya dan kematian seorang mantan direktur riset, Hendrawan. Raina menemukan bahwa penyelamatnya adalah Baskara, putra Hendrawan, yang membantunya karena Raina tidak pantas mati untuk dosa ayahnya. Mereka membentuk aliansi yang rapuh untuk menghentikan Tirtayasa, dalang di balik penculikan Raina dan kematian ayah Baskara. Dalam sebuah jebakan, Nara terluka parah, dan Raina terpaksa memberikan data Proyek Alpha kepada Tirtayasa. Namun, dengan bantuan polisi dan pengorbanan Nara, Tirtayasa ditangkap dan kebenaran terungkap. Raina memulai hidup baru, sementara hubungannya dengan Baskara, yang awalnya dipenuhi dendam, perlahan-lahan berubah menjadi harapan untuk masa depan.
View MorePada hari ulang tahunku yang ke-25, seharusnya aku terbangun dengan aroma kopi, disusul oleh nyanyian riang dari Nara, tunanganku, dan sarapan di ranjang. Atau setidaknya, aku membayangkan ada kue cokelat dengan lilin-lilin yang siap ditiup. Namun, realitas jauh lebih kejam. Aku terbangun dalam kegelapan yang pekat, keheningan yang menyesakkan, dan dingin yang menggigit hingga ke tulang. Di leherku, sebuah kalung mutiara yang diberikan Nara tersemat, tetapi rasanya kini seperti jerat yang mengikat kebebasanku.
Di ruangan yang tak berukuran ini, aku hanya bisa merasakan sensasi yang menyakitkan. Kawat baja mengikat pergelangan tanganku, menusuk kulit dan membuat darah menetes perlahan. Tubuhku terasa ngilu, penuh dengan memar yang tak terhitung jumlahnya. Suara tetesan air dari langit-langit yang bocor menjadi satu-satunya irama di dalam ruang yang sunyi itu. Setiap tetesnya terdengar seperti ketukan jam kematian yang perlahan-lahan mendekat. Setiap detik terasa seperti seribu tahun dalam penjara yang mengerikan. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berada di sana. Hari, malam, semuanya terasa sama. Aku hanya tahu aku sendirian. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Sebuah pesta kejutan, tawa teman-teman, dan kemudian... kegelapan. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Apakah ini mimpi buruk? Apakah ini adalah hukuman atas pertengkaranku dengan Ayah? Ayahku, Damar Wicaksana, adalah pengusaha teknologi yang sukses. Nama Witech Corp miliknya dikenal di seluruh negeri. Namun, di balik kesuksesan itu, ada jarak yang tak terukur antara aku dan Ayah. Aku merasa Ayah terlalu fokus pada pekerjaannya, mengabaikanku, bahkan setelah kepergian Ibu. Aku merasa Ayah menempatkan perusahaannya di atas segalanya. Aku merasa aku hanya bayangan dari nama besar Wicaksana. Karena itulah, aku memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari jalanku sendiri sebagai seorang seniman lepas. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bayang-bayang Ayah. Keputusan itu memicu pertengkaran hebat di antara kami. Kata-kata tajam terucap, luka-luka baru tercipta. Aku pergi dengan amarah, dan kini aku menyesalinya. Selama tiga hari tiga malam, aku disiksa. Bukan secara fisik, tetapi secara mental. Mereka tidak pernah menampakkan diri. Aku hanya mendengar suara mereka yang serak, kasar, dan penuh ancaman. Salah satu dari mereka memiliki aroma tembakau murahan yang menusuk hidung. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang kali. "Di mana data itu? Apa yang disembunyikan Damar? Beri tahu kami, atau kau akan menyesal." Aku hanya bisa menangis dan menggelengkan kepala. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pikiranku dipenuhi oleh rasa takut dan keputusasaan. Aku memikirkan Nara, tunanganku, dan Ayah. Apakah mereka mencariku? Apakah mereka tahu aku berada di sini? Aku hanya bisa berharap. Saat malam ketiga hampir berakhir, aku sudah pasrah. Aku berpikir, mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Namun, takdir memiliki rencana lain. Tiba-tiba, pintu terbuka. Cahaya dari luar menyilaukan mataku. Di sana, berdiri seorang pria. Wajahnya diselimuti bayangan, tetapi matanya yang tajam seperti elang menembus kegelapan. Sebuah luka sayatan tipis di dahinya menjadi satu-satunya petunjuk tentang identitasnya. Ia bukan salah satu dari mereka. Ia datang bukan untuk menyiksaku, tetapi untuk menyelamatkanku. Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, pria itu melumpuhkan penjaga yang ada di pintu. Aku melihatnya bertarung. Setiap gerakannya efisien dan mematikan. Dia bergerak seolah-olah dia telah melakukan ini ribuan kali. Aku terkesima. Setelah memastikan tidak ada lagi ancaman, dia mendekatiku. Ia melepaskan ikatan di tanganku, tanpa sepatah kata pun. Ketika ia menyentuhku, tubuhku menggigil. Bukan karena kedinginan, tetapi karena perasaan aman yang tiba-tiba. Sebelum mendorongku keluar dari ruang bawah tanah itu, dia berbisik, "Jangan percaya siapa pun, termasuk orang yang mengaku mencintaimu." Aku tidak mengerti apa maksudnya. Namun, aku tak punya waktu untuk bertanya. Aku berlari. Tanpa alas kaki, tanpa tujuan. Aku berlari menembus kegelapan malam, menjauh dari neraka yang baru saja kutinggalkan. Aku tidak tahu siapa pria itu, dan mengapa ia menyelamatkanku. Aku hanya tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama. Peringatan itu terus terngiang di kepalaku. Siapakah yang dimaksudnya? Apakah Nara, tunanganku? Atau Ayahku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu satu hal: aku harus menemukan jawabannya.Pagi itu, kabut di Rinjani terasa dingin dan mencekik. Setelah percakapan berat dengan Baskara, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau emosi. Kami adalah tiga orang yang dipersenjatai dengan tekad dan dikelilingi oleh musuh tak kasat mata. Gio menyewa mobil bekas yang tampak biasa saja—sebuah sedan Jepang tua yang warnanya sudah pudar. Sempurna untuk menyamarkan diri. Aku duduk di kursi penumpang, tablet terenkripsi Ayahku disembunyikan di dalam kompartemen rahasia yang Gio pasang di bawah kursi. Gio mengemudi, matanya tidak hanya fokus pada jalan, tetapi juga pada serangkaian data anomali yang ia pantau melalui ponsel modifikasinya yang diletakkan di dasbor. "Profesor Bayu akan mengajar kelas Pengantar Kode Etik di Universitas Nusa Tenggara," Gio menjelaskan, suaranya tegang. "Itu adalah lokasi yang paling netral. Kita harus berbaur dengan mahasiswa. Kita harus meyakinkan dia untuk tidak hanya melihat tablet itu sebagai data Witech, tetapi sebagai senjata yang akan menghancur
(ketika sebuah pembunuhan disamarkan sebagai statistik, dan kebenaran dipendam selama sepuluh tahun)Kabut pagi di Rinjani tidak turun – ia merayap.Ia menyusup perlahan dari sela pepohonan, menempel di dinding motel, meresap ke poro-pori kulit, membuat udara terasa basah dan berat. Matahari belum benar-benar terbit, hanya menyisakan cahaya abu-abu yang membuat segala sesuatu tampak seperti dunia yang belum selesai diciptakan.Aku duduk di lantai kamar motel, punggung bersandar pada dinding dingin. Tablet terenkripsi itu berada di dalam brankas portabel berlapis timah, terkunci rapat seperti rahasia yang menolak untuk dibuka. USB drive ayahku sudah disalin Gio, tetapi salinannya terasa seperti bayangan – tanpa makna sebelum kami memahami keseluruhan ceritanya.Gio berdiri di dekat jendela, tirainya sedikit terbuka. Tangannya memegang ponsel terenkripsi, matanya waspada. Di layar laptop, wajah Baskara muncul -diam, kaku, seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup bersama hantu.Ke
Motel itu berdiri seperti bangunan yang lupa mati.Lampu neon di atas papan namanya berkedip pelan, memantulkan cahaya kehijauan ke genangan air di aspal. Udara di sekitarnya bau lembap, campuran jamur, karpet tua, dan asap kendaraan yang jarang lewat. Tidak ada kamera keamanan yang berfungsi. Tidak ada resepsionis setelah tengah malam. Tempat ini terlalu buruk untuk di curigai -dan itulah sebabnya Gio memilihnya.Kami masuk tanpa bicara. Gio langsung bergerak begitu pintu tertutup. Tangannya cekatan, efisien seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini untuk ,asih merasakan gugup. Ia mengeluarkan perangkat kecil dari ranselnya -jammer sinyal berbentuk cakram pipih- lalu menempelkannya di dinding dekat jendela. “Radius tiga puluh meter,” katanya tanpa menoleh. “Cukup untuk membuat kita buta dari luar,”Aku memperhatikan setiap gerakannya sambil duduk di tepi ranjang. Kasurnya berderit pelan di bawah berat tubuhku. Spreinya terasa kasar, seperti tidak benar-benar bersih.
Mobil yang dikendarai Gio berbelok perlahan dan mulai menanjak melewati jalan sempit menuju area perbukitan. Kabut Rinjani semakin padat, memeluk mobil seperti tirai putih yang bergerak dengan napas hutan. Lampu depan menabrak gumpalan kabut itu, membuat dunia seolah surut hanya beberapa meter ke depan. Gio menurunkan kecepatan. “Kita semakin dekat dengan kompleks lama fakultas teknik,” katanya tanpa menoleh. “Menurut peta yang Bas berikan, tempat Profesor Bayu tinggal ada di wilayah kampus yang sudah tidak dipakai.”Aku mendengarnya. Tapi pikiranku tidak benar-benar berada di kursi penumpang mobil itu.Pikiranku sudah kembali ke malam itu.Malam ketika semua titik terang menyatu.Malam ketika ketakutan ayahku akhirnya diberi nama. Tirtayasa.Dan di baliknya – sesuatu yang lebih gelap, lebih besar, lebih sunyi. Raka D.Ingatan itu kembali bukan sebagai potongan-potongan acak, tetapi sebagai film penuh yang diputar ulang tanpa izin. FLASHBACK – MALAM ITU, DETIK – DETIK SETELAH AYAH
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.