Mata Ryan menyipit. Dia mengangkat tangannya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah dengan ujung jari. "Kami hanya kebetulan bertemu. Kamu nggak perlu memikirkannya."Suara Yunda terdengar ragu dan pelan, "Tapi suaranya tadi terdengar sangat dekat denganmu ...."Susan berdiri sejauh dua meter dari Ryan, lalu menatap pria itu dengan pandangan sedingin es.Ryan tidak menjawab pertanyaan Yunda, dia hanya berkata, "Carilah tempat untuk duduk dulu, atau kamu bisa beristirahat sebentar di kantorku. Aku akan segera ke sana untuk membawamu ke rumah sakit."Yunda berkata dengan suara lirih, "Baiklah. Kalau begitu, cepatlah datang …."Tiba-tiba, tepat sebelum telepon diputus, Yunda meninggikan suaranya, seolah ingin memberi penekanan, "Ryan, aku hanya ingin kamu datang menemuiku sendirian. Apa bisa?"Susan mengangkat alisnya. Isyarat dari Yunda sudah sangat jelas.Ryan melirik Susan sekilas, lalu segera menyetujui, "Baiklah."Begitu telepon ditutup, Susan mengangkat tangannya untuk be
Read more