Ningsih menunduk, malu campur marah membuat pipinya panas. “Udah, Yu. Nggak usah ngoceh yang aneh-aneh.”Bayu mengangguk, tapi matanya menyantap panorama indah itu. “Ya, Mbak. Sekarang mulai mijit. Dari bahu dulu.”Ningsih berlutut lagi, menumpahkan lotion dari botol ke telapak tangannya. Saat jari-jarinya menyentuh bahu Bayu, ia merasakan hangat tubuh adik iparnya itu. Gerakan memutar yang biasa, tapi kali ini terasa berbeda, lebih intim, lebih salah. Bayu mendesah pelan, matanya setengah terpejam tapi sesekali membuka untuk melihat tubuh Ningsih yang bergerak di depannya.“Ganti ke dada, Mbak,” bisik Bayu, suaranya serak. Ekspresinya penuh kenikmatan.Ningsih menurut, tangannya meluncur ke dada Bayu, merasakan detak jantung yang mengencang. Dadanya bergoyang pelan saat ia menekan lebih keras, dan Bayu tak melewatkan itu, matanya menyipit, senyum nakal tersungging dari bibirnya.“Lepas behanya juga, Mbak. Biar lebih bebas,” kata Bayu tiba-tiba, tangannya naik menyentuh pinggang Nings
Last Updated : 2026-01-15 Read more