Waktu berjalan tanpa terasa. Obrolan mereka mengalir pelan, kadang diselingi tawa kecil, kadang berhenti di jeda yang hangat. Saat matahari mulai turun dan cahaya di ruang tamu berubah lebih redup, Ajeng melirik jam di ponselnya. “Nek… kami pamit dulu,” ucap Ajeng pelan. “Takut kemalaman di jalan.” Nenek itu menoleh, lalu mengangguk. “Iya, hati-hati. Jalan ke sana kalau sudah sore suka sepi.” Ajeng dan Luki berdiri. Ajeng mendekat lebih dulu, memeluk sang nenek erat. Pelukan itu bertahan sedikit lebih lama dari sebelumnya. “Sering-sering ke sini,” kata nenek itu sambil menepuk punggung Ajeng. “Ini juga rumah kamu.” Ajeng menelan ludah, lalu mengangguk. “Iya, Nek. Aku bakal sering ke sini.” Nenek itu tersenyum puas, lalu menoleh ke arah Luki. “Kamu juga kalau ada waktu, mampir. Rumah ini selalu kebuka.” “Iya, Nek,” jawab Luki singkat. Mereka melangkah keluar rumah bersama-sama. Nenek itu berdiri di ambang pintu, menatap punggung Ajeng dan Luki sampai keduanya masuk ke m
Ler mais