Malam itu Luki baru saja meraih gagang pintu. Sepatunya sudah terpasang, kunci mobil ada di tangan. Baru selangkah pintu terbuka, tubuhnya langsung menegang. Di depan rumah, berdiri Om Iksan. Luki terdiam sesaat. “Om Iksan?” ucapnya pelan, jelas kaget. Om Iksan tersenyum tipis. Wajahnya kelihatan capek, tapi sorot matanya serius. “Luk, boleh ngomong bentar?” Luki ragu sepersekian detik. Dia sudah siap berangkat ke rumah Tante Sarah, tapi rasanya gak enak nolak. “Iya, Om… masuk.” Om Iksan melangkah masuk. Luki menutup pintu, lalu mengantar Om Iksan ke ruang tamu. “Duduk, Om,” kata Luki. Om Iksan duduk. Luki langsung berjalan ke kamar Mbak Ajeng. Ia membuka pintu sedikit dan masuk. “Mbak,” kata Luki pelan. Mbak Ajeng menoleh. “Kenapa, Luk?” “Om Iksan dateng.” Mbak Ajeng mengernyit. “Sekarang?” “Iya. Lagi di ruang tamu. Katanya mau ngomong bentar.” “Mau ngomong apa?” Luki menggeleng. “Gak tau.” Mbak Ajeng terdiam sebentar, lalu berkata tenang, “Yaudah, temuin aja dulu.
Read more