Lampu kamar masih redup, tirainya setengah tertutup, menyisakan cahaya malam yang tipis masuk ke ruangan. Luki berbaring telentang, napasnya sudah kembali teratur, sementara Tante Sarah menyandarkan kepala di dadanya. Suasana tenang itu terasa berbeda, bukan lagi soal hasrat, melainkan sisa kehangatan yang belum ingin dilepas. Sarah menarik selimut sedikit lebih tinggi, menutup bahu mereka berdua. Tangannya bergerak pelan, sekadar menelusuri dada Luki, gestur kecil yang lebih mirip kebiasaan daripada godaan. Luki menoleh ke samping, menatap wajah Sarah yang terlihat lebih lembut dari biasanya. “Kamu mikirin apa, Sayang?” tanya Sarah pelan, suaranya nyaris berbisik. Luki tersenyum tipis. “Biasa, Tan.” Sarah mengangkat wajahnya sedikit, dagunya bertumpu di dada Luki. Ia menatap mata Luki, mencoba membaca arah pikirannya. “Kepikiran mamahmu?” tanyanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan. Luki mengangguk pelan. “Iya. Sekarang mamah udah bebas, rasanya a
Ler mais