Lampu temaram restoran hotel bintang lima itu memantul di permukaan meja marmer. Gunawan duduk dengan punggung tegak, jasnya rapi, satu tangan menopang gelas wine yang belum ia sentuh sejak lima menit lalu. Di seberangnya, pria paruh baya bernama Peter menyandarkan punggung ke kursi, dua bodyguard berdiri agak jauh di belakang mereka, berpura-pura tak peduli. Peter mengangkat gelasnya perlahan, memutar cairan merah di dalamnya sebelum menyesap sedikit. “Jadi gimana, Bung Gunawan,” katanya datar, tatapannya tak lepas dari wajah Gunawan, “apa kita bisa percaya begitu saja sama Maria?” Gunawan menghembuskan napas lewat hidung, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia baru menyesap wine setelah itu, seolah memberi jeda sebelum menjawab. “Tenang saja, Bung Peter,” ucapnya santai, suaranya rendah tapi mantap, “semua sudah saya atur.” Ia menaruh kembali gelasnya, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Kalau Maria berani macam-macam,” lanjutnya, nada suaranya tetap ringan, “kita pu
Last Updated : 2026-01-01 Read more