Seeyana menatap layar ponselnya, mata menajam, jantung berdetak lebih cepat tapi terkontrol. Pesan dari Rhea itu tidak berisi kata manis atau ajakan basa-basi. Hanya fakta yang menggantung.“Meja direksi,” gumamnya pelan, seperti mencoba mengucapkan sesuatu yang terlalu besar untuk ditelan sekaligus. Ia berdiri, menutup laptop, dan menarik napas panjang. Setiap langkahnya menuju lift terasa seperti tarian perlahan dengan waktu.Di lobi kantor, orang-orang berlalu-lalang, tapi Seeyana tidak menyapa. Ia hanya berjalan lurus, fokus, menyalakan semua indera. Sesuatu di udara hari ini terasa berbeda—tegang tapi nyata, bukan khayalan.Lift terbuka, suara “ding” terdengar, namun ia tak menoleh. Jantungnya berdetak lagi, kali ini lebih keras. Sesaat ia membayangkan apa yang menunggu di ruang direksi: dokumen, konfirmasi keputusan, atau sesuatu yang bahkan belum ia bayangkan.Ketika pintu ruangan terbuka, Rhea sudah menunggu, berkas di tangan. Wajahnya ten
Leer más