INICIAR SESIÓNPernikahan itu seharusnya menjadi penyelamat keluarganya—bukan penjara barunya. Keira Valen tidak pernah membayangkan akan berdiri di pelaminan dengan Nero Adhitya, pria yang paling ingin ia hindari di dunia. Dingin, jauh, dan menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa ia baca, Nero adalah simbol dari semua luka masa lalu keluarganya. Namun demi menyelamatkan bisnis yang runtuh, Keira dipaksa menikah… dan menyerahkan hidupnya pada pria yang tidak ia percayai. Hidup satu atap dengan Nero rasanya seperti berjalan di atas pecahan kaca. Hening, dingin, tegang, juga penuh rahasia. Hingga Keira merasa tidak tahan lagi dan memilih pergi darinya.
Ver más“Keira, ayah ingin kamu menikah minggu depan.”
“Apa?” suaranya bergetar, tak percaya. Ia menatap ibunya yang berdiri kaku di depan jendela besar. Wanita itu berbalik perlahan, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi matanya menyimpan badai yang hanya bisa dikenali oleh orang yang tumbuh dari rahimnya. “Ini keputusan ayahmu. Dan kamu tahu keadaan perusahaan. Jika kita tak bertindak sekarang, seluruh keluarga akan jatuh dan kamu akan kehilangan segalanya, Nak.” Segalanya. Kata itu menggema dalam kepalanya. Segalanya yang tidak pernah ia minta. Perusahaan yang diwariskan dengan darah dan kebohongan. Gelar komisaris muda yang disematkan bukan karena kemampuan, tapi karena garis keturunan. Keira menggigit bibirnya, mencoba menahan tanya dan marah yang berselimut satu: siapa pria itu? “Siapa dia?” bisiknya akhirnya. “Namanya Nero Adhitya.” Keira tidak pernah mendengar nama itu. Atau mungkin ia pernah, tapi otaknya menolak mengaitkannya dengan realita yang tengah dipaksakan padanya sekarang. Ia menelan ludah yang terasa lebih pahit dari kopi hitam. “Kenapa dia?” tanyanya pelan. Ibunya menghela napas. “Karena dia satu-satunya yang mau.” Kalimat itu menusuk lebih tajam dari sebelumnya. Satu-satunya yang mau menikahi Keira Valen? Apa dia barang sisa? Komoditas gagal? “Jadi ... aku barang lelang yang tak diinginkan siapa pun, selain dia?” Keira merasakan pahit di hatinya. Ibunya berkata dengan nada datar. “Kamu tidak mengerti, Keira. Ini hanya bukan tentang kamu. Lihat ayahmu, tidak bisa turun dari ranjang tanpa bantuan suster. Para investor juga siap menarik dana. Ini tentang ….” “menyelamatkan wajah Valen Corp di depan publik!” potong Keira cepat, dengan nada getir. Ia menyadari, tidak pernah ada ruang untuk dirinya di keluarga ini selain sebagai simbol dan strategi. *** Hari pernikahan datang lebih cepat dari harapan. Keira berdiri di depan cermin rias, mengenakan gaun putih satin dengan model off-shoulder, bagian dadanya dipenuhi payet lembut berkilauan. Wajahnya terpulas sempurna, namun tidak ada senyum yang tersisa. Bibirnya beku, dan matanya kosong. Pernikahan ini diadakan tertutup. Tidak ada pesta. Tidak ada gaung media. Tidak ada keluarga besar yang berbaris mengucap selamat. Hanya ada ruangan hotel mewah yang disulap seperti kapel. Dan seorang pria asing yang kini berdiri di ujung lorong pernikahan. Nero Adhitya. “Waktunya,” bisik ibunya, mendekat. Keira menarik napas panjang. Jantungnya berdetak pelan. Ia tahu, sekali melangkah, tak ada jalan mundur. Ini bukan film. Tak akan ada pangeran datang menyelamatkan. Hidupnya sudah ditentukan oleh orang lain sejak awal. Langkah kakinya menyusuri lorong seperti gema keputusasaan, hingga akhirnya berdiri di samping Nero, pria itu hanya menoleh sekilas. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Pendeta berdiri di antara mereka, membuka naskah. “Kita berkumpul di sini untuk menyatukan dua jiwa dalam ikatan suci pernikahan. Keira Valen, Nero Adhitya. Apakah kalian siap mengikat janji sebagai suami dan istri di hadapan Tuhan dan para saksi?” Keheningan menggantung. Keira menatap lantai. Tangan dinginnya menggenggam bunga buket yang bahkan bukan pilihannya sendiri. “Saya bersedia,” ucapnya pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar, namun cukup bagi pendeta untuk melanjutkan. Nero mengucapkannya tak lama kemudian, “Saya bersedia.” Mereka berdua tidak menoleh. Tidak ada kontak mata. Tidak ada senyum. Pendeta mengangguk. “Dengan ini, saya menyatakan kalian sah sebagai suami dan istri. Semoga Tuhan memberkati rumah tangga kalian.” Nero tidak menyentuh Keira sedikit pun. Ia memutar tubuh, memberi jalan kepada Keira untuk turun dari altar. Seolah baru selesai menandatangani kontrak kerja. Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, keheningan lebih menusuk daripada udara malam yang menempel di jendela. Keira duduk dengan tangan di pangkuan, memandang keluar, mencoba membuka percakapan, sekadar untuk mengusir kecanggungan. “Apakah rumahmu jauh dari sini?” tanyanya pelan. Nero tak menjawab. Keira melirik sekilas dan menghela napas. Cukup baginya mencoba sekali. Gadis itu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ada rasa dingin menyergap hatinya. Pria di sampingnya lebih dingin dari freezer. Mobil berhenti di depan rumah megah. Nero menahan pintu, membiarkan Keira masuk. Beberapa pelayan membungkuk sopan lalu pergi begitu saja tanpa ucapan selamat datang. Keira berdiri mematung, merasa seperti tamu tak diundang. Nero melewati lorong tanpa menoleh. Ia hanya berkata saat hendak naik ke lantai dua, “Kamar ini milikmu. Aku akan tidur di ruangan sebelah.” Keira menatap punggungnya, kaku. Itu adalah kalimat pertama yang ia dengar dari suaminya setelah resmi menjadi istri. Tanpa nama. Tanpa basa-basi dan emosi. Dia mematung di ambang pintu. Matanya menangkap susunan kelopak mawar merah membentuk hati di atas seprai putih bersih. Di tengahnya, tergeletak sepotong lingerie tipis berwarna merah marun, renda halus dan tali kecil dilipat rapi. Ia melangkah masuk. Tumit sepatunya tenggelam dalam karpet tebal. Matanya tak bisa lepas dari benda merah itu. Tangannya mengepal. Detik berikutnya, ia mencengkeram lingerie tersebut dan melemparkannya ke atas tempat tidur sekuat tenaga. “Pernikahan apa ini?” Tangannya gemetar akibat emosi dan napasnya berat. Sebuah tawa pendek, getir. Keira menertawakan hidupnya sendiri. “Bahkan dia tidak sudi menatapku. Tidak bicara atau menyentuh. Dan kalian sebut ini pernikahan?” Tubuh gadis itu meluruh ke lantai, bersandar pada tepian tempat tidur. Matanya mulai basah. “Dia bahkan tidak merasa perlu berbasa-basi di mobil.” Titik air mata telah berubah jadi banjir. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah ke lengannya penuh kesedihan. “Aku benci kalian semua ....” *** Keira duduk di depan meja, tumpukan berkas dan laptop terbuka di hadapannya. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa makeup, dan gelas kopi ketiganya sudah hampir kosong. Pagi tadi, ia meminta beberapa laporan keuangan lama Valen Corp dikirimkan via email oleh staf akuntansi lama yang dulu dekat dengannya. Ia mengatakan ingin “menyusun portofolio keluarga”. Alasan yang cukup sopan untuk tidak menimbulkan tanya. Ia membuka dokumen berlabel "Laporan Arus Kas Konsolidasi - Kuartal IV", lalu membandingkannya dengan salinan yang lebih lama yang tersimpan dalam flashdisk pribadinya. Tanggal penerbitannya berbeda dua bulan dan isi datanya … mencurigakan. Keira menyipitkan mata. “Kenapa nominalnya berubah?” Ada selisih puluhan miliar dalam aliran masuk investasi. Tapi yang lebih mencurigakan, sumbernya justru berasal dari akun bernama PT Fortuna Prima. Nama yang asing baginya. “Fortuna Prima ya?” Ia mengetik cepat di pencarian G****e. Tidak ada hasil tentang perusahaan itu. Dibukanya dokumen tahun lalu. Di sana, nama yang sama muncul sebagai pemilik salah satu aset yang "diakuisisi" Valen Corp. Tapi Keira ingat betul, aset itu … dulunya milik mereka sendiri. “Apa ini?” Otaknya berputar dan menduga sesuatu. Keira mengetik pesan panjang untuk temannya yang bekerja di kantor audit. “Kau masih ingat laporan Valen Corp tahun lalu? Coba cek lagi soal Fortuna Prima. Ada yang janggal. Aku butuh second opinion.” Jari-jarinya mengetik cepat, penuh tekanan, tapi tiba-tiba berhenti. Pandangannya mengarah ke pintu kamar yang tertutup rapat. Ekspresinya tegang. “Apa dia tahu tentang ini?”Bukan harga yang bergerak duluan pagi itu.Tapi notifikasi. Satu per satu.Vendor logistik utama menunda penandatanganan kontrak lanjutan. Dua bank meminta klarifikasi tambahan atas fasilitas kredit revolving. Seorang klien besar meminta pertemuan mendadak.Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang eksplosif. Tapi semuanya terjadi dalam rentang dua jam. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Rhea menatap daftar email di tabletnya. “Ini bukan tekanan pasar. Ini tekanan ke operasional.”Armand mengangguk pelan. “Kalau mitra mulai ragu, narasinya bergeser: bukan lagi soal saham, tapi soal keberlanjutan bisnis.”Itu lebih berbahaya. Harga bisa dipulihkan. Kepercayaan mitra lebih sulit.Seeyana berdiri, memandang papan timeline integrasi di dinding.“Mereka tidak menyerang benteng,” katanya pelan.“Mereka memutus jalur suplai.”Pukul 10.20, ia duduk dalam panggilan video dengan klien utama.
Seeyana tidak menunggu rumor berkembang. Pukul 07.30, ia mengirim undangan rapat mendadak untuk seluruh direksi inti.Subjeknya sederhana.Sinkronisasi StrategisTidak ada yang suka undangan seperti itu.Ruang rapat terasa berbeda pagi itu. Tidak tegang secara terbuka. Tapi ada jarak tipis di antara kursi-kursi yang biasanya terasa dekat.Seeyana berdiri, bukan duduk.“Kita sedang diuji,” katanya langsung. “Bukan hanya strategi. Tapi soliditas.”Tidak ada yang menyela.“Saya dengar ada pendekatan dari luar. Saya tidak butuh nama. Saya butuh kejujuran.”Hening.Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya. Lalu salah satu direktur operasional berdehem pelan.“Saya dihubungi,” katanya akhirnya. “Lewat konsultan. Tidak formal.”Semua mata beralih padanya.“Apa yang ditawarkan?” tanya Armand.“Pertemuan informal. Diskusi ‘masa depan perusahaan’ kalau terjadi perubahan kepemilikan.”Kalimat yang halus. Tapi maknanya jelas.Seeyana mengangguk pelan.“Dan?”“Saya menolak. Tapi… mereka
Berita itu muncul pukul 06.12.Bukan di media besar.Bukan di headline utama. Hanya satu artikel opini di portal finansial yang cukup kredibel untuk menimbulkan keraguan.“Ekspansi Terlalu Agresif? Risiko Tersembunyi di Balik Akuisisi Terbaru.”Tidak menyebut nama secara gamblang. Tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.Rhea masuk ke ruangan dengan wajah tegang.“Artikel ini disebar masif lewat forum investor sejak subuh.”Armand sudah membuka grafik.Harga turun 3% dalam tiga puluh menit pertama perdagangan.“Timing-nya terlalu rapi,” gumamnya.Seeyana membaca cepat.Argumen dibuat seolah objektif. Target akuisisi dianggap overvalued.Potensi integrasi disebut berisiko.Beban utang masa depan disorot. Tidak ada tuduhan ilegal. Hanya cukup untuk menanamkan keraguan.Taktik klasik.“Ini bukan kebetulan,” kata Rhea. “Du
“Targetnya ini?”Armand memutar layar ke arah Seeyana.Perusahaan logistik regional. Skala menengah. Infrastruktur rapi. Arus kas stabil. Tidak glamor—tapi strategis.“Kalau kita ambil ini,” lanjutnya, “rantai distribusi kita hampir terkunci penuh.”Rhea menambahkan, “Dan narasinya kuat. Kita bukan lagi defensif. Kita ekspansi.”Seeyana tidak langsung menjawab.Ia membaca laporan due diligence singkat yang baru masuk subuh tadi.Utang terkendali. Manajemen terbuka untuk negosiasi. Pemilik lama ingin exit sebagian.Terlalu pas? Atau memang waktunya tepat?Siang itu, pertemuan informal dengan dua pemegang saham minoritas berlangsung di lounge kantor.Tidak ada presentasi megah. Hanya diskusi.“Saya dengar ada minat dari luar,” kata salah satu dari mereka hati-hati.“Minat selalu ada kalau harga naik,” jawab Seeyana tenang.“Dan kalau tawarannya menarik?”“Perta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.