FAZER LOGINPernikahan itu seharusnya menjadi penyelamat keluarganya—bukan penjara barunya. Keira Valen tidak pernah membayangkan akan berdiri di pelaminan dengan Nero Adhitya, pria yang paling ingin ia hindari di dunia. Dingin, jauh, dan menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa ia baca, Nero adalah simbol dari semua luka masa lalu keluarganya. Namun demi menyelamatkan bisnis yang runtuh, Keira dipaksa menikah… dan menyerahkan hidupnya pada pria yang tidak ia percayai. Hidup satu atap dengan Nero rasanya seperti berjalan di atas pecahan kaca. Hening, dingin, tegang, juga penuh rahasia. Hingga Keira merasa tidak tahan lagi dan memilih pergi darinya.
Ver maisCeklek!!Pintu terbuka sepersekian, cukup untuk membiarkan cahaya lorong masuk dan memotong gelap ruang arsip. Bayangan di lantai memanjang, bergerak pelan seiring daun pintu terdorong lebih jauh. Rendra sudah setengah langkah di depan, tubuhnya menutup sebagian meja. Arief berdiri kaku di sisi lain, tablet masih di tangan, tapi jari-jarinya tidak lagi bergerak.Seeyana tidak mundur. Ia hanya menggeser flash drive itu ke dalam genggamannya, menutupnya rapat tanpa suara.Pintu terbuka penuh. Sosok di ambang tidak langsung masuk. Ia berhenti sejenak, seperti memberi waktu bagi mata mereka menyesuaikan.Lalu melangkah.“Seharusnya saya tahu kalian akan ke sini.”Suara itu familiar. Terlalu familiar.Arief menghembuskan napas pendek. “Pak Adrian.”Adrian Pratama menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Tidak ada tergesa, tidak ada gerakan yang sia-sia. Jasnya masih rapi seperti sebelumnya, seolah
“Kita sudah terlalu dekat untuk mundur sekarang.”Suara Rendra rendah, hampir seperti gumaman, tapi cukup untuk membuat langkah Seeyana berhenti sepersekian detik sebelum kembali berjalan. Koridor menuju ruang arsip lama terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu di langit-langit menyala stabil, tapi pantulannya di lantai marmer menciptakan kesan dingin yang tidak nyaman.Arief berada sedikit di belakang mereka, tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan lantai utama. Tangannya memegang tablet, tapi layar itu tidak lagi menampilkan data baru. Hanya catatan yang sama, dibaca ulang berkali-kali seolah ada sesuatu yang terlewat.“Kita tidak masuk tanpa rencana,” kata Seeyana akhirnya, suaranya tenang tapi lebih datar dari biasanya. Ia tidak menoleh, matanya tetap lurus ke depan.“Ini bukan bagian dari rencana awal,” jawab Arief.“Sekarang sudah.”Tidak ada yang menambahkan. Hanya suara langkah m
“Tidak sekarang.”Suara Seeyana tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan reaksi spontan yang hampir keluar dari Rendra dan Arief. Tangannya masih menggenggam ponsel, layar belum padam, pesan terakhir itu seperti menggantung di antara mereka, tidak meminta jawaban, tapi jelas menuntut keputusan.Rhea tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan Seeyana, menunggu arah.“Kalau kita menyebut nama itu sekarang,” lanjut Seeyana pelan, “kita kehilangan satu hal yang belum kita punya.”Rendra menyipitkan mata. “Apa?”“Kontrol.”Kata itu jatuh dengan tenang, tapi beratnya terasa jelas.Arief bersandar sedikit ke meja, tangannya terlipat. “Kita sudah punya log. Akses override. Itu bukan bukti kecil.”“Bukan,” jawab Seeyana. “Tapi itu juga belum cukup untuk menjelaskan bagaimana Helios bisa berjalan selama tiga tahun tanpa ada satu pun alarm yang
“Kalau dia bukan orangnya… berarti kita selama ini melihat ke arah yang salah.”Rendra bicara pelan, tapi cukup untuk membuat langkah mereka yang sempat tertahan kembali bergerak.Seeyana tidak langsung menjawab. Ia berjalan lebih dulu, melewati koridor yang kini terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu di langit-langit memantulkan bayangan tipis di lantai marmer. Suara sepatu mereka terdengar jelas, terlalu jelas, seolah setiap langkah ikut dihitung.Arief menyusul di sisi kiri.“Pesan itu bisa saja jebakan,” katanya. “Mengarahkan kita menjauh dari Adrian.”“Bisa,” jawab Seeyana singkat.Ia menekan tombol lift tanpa melihat mereka.“Dan kalau bukan?”Lift belum datang. Angka di atas pintu bergerak lambat dari lantai bawah.Rendra menyandarkan bahu ke dinding.“Kalau bukan… berarti kita baru saja berhadapan dengan seseorang yang tahu s
Pagi itu datang tanpa tanda apa pun.Tidak ada pesan yang masuk, tidak ada agenda mendesak, tidak ada pikiran yang menarik Seeyana keluar dari tempat tidurnya dengan tergesa. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit apartemen yang masih asing, lalu memejamkannya kembali selama beb
Pagi itu, Seeyana bangun lebih lambat dari biasanya.Bukan karena lelah, tetapi karena tubuhnya meminta jeda tidak ada alarm yang memaksa, tidak ada telepon yang harus segera dijawab. Ia duduk di tepi ranjang, kaki menggantung, memandangi cahaya tipis yang masuk dari jendela. Kota di baw
Pagi itu, Seeyana datang ke kantor lebih awal.Bukan karena tuntutan pekerjaan, melainkan karena ia ingin tiba tanpa tergesa. Ia menikmati momen ketika gedung masih setengah kosong lampu-lampu menyala malas, suara mesin pendingin bergema ringan, dan meja-meja kerja masih netral, belum di
Seeyana kembali ke toko buku itu seminggu kemudian.Bukan karena janji. Bukan karena rasa penasaran yang mendesak. Ia hanya berjalan pulang lewat rute yang sama, dan hujan turun tiba-tiba ringan, tapi cukup untuk membuat orang-orang mencari atap terdekat. Pintu kaca toko itu terbuka sepe


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.