Pagi itu, Seeyana bangun lebih lambat dari biasanya.Bukan karena lelah, tetapi karena tubuhnya meminta jeda tidak ada alarm yang memaksa, tidak ada telepon yang harus segera dijawab. Ia duduk di tepi ranjang, kaki menggantung, memandangi cahaya tipis yang masuk dari jendela. Kota di bawahnya mulai bergerak, tapi ia tetap di sini, diam.Setelah mandi dan sarapan ringan, ia berjalan ke kantor tanpa jadwal ketat. Jalan-jalan yang biasanya ia lewati dengan cepat, kini terasa lebih panjang, lebih menyimpan. Setiap langkah seolah menandai dirinya sendiri Seeyana yang hadir, bukan Seeyana yang lari dari sesuatu.Di kantor, suasana biasa tenang, dengan suara printer dan ketukan keyboard yang monoton. Seeyana menyapa rekan-rekan yang sudah datang. Ada senyum singkat, ada anggukan. Tidak ada yang menanyakan kabar lama, dan itu membuatnya lega. Ia duduk, menyiapkan dokumen, menelusuri email tidak ada yang penting, kecuali satu dari alamat yang sama dengan kemarin. I
Last Updated : 2026-02-14 Read more