Jam 21.17.Ruang rapat dewan di lantai tertinggi belum juga padam. Di dalam, keputusan yang akan menentukan arah perusahaan sedang ditimbang bukan dengan emosi, tapi dengan kepentingan.Di luar, Seeyana berdiri di balkon kecil gedung, memandang kota yang tetap sibuk seolah tak peduli pada apa pun yang terjadi di atas sana.Halim keluar menyusulnya beberapa menit kemudian.“Masih belum selesai,” katanya pelan.Seeyana mengangguk. “Semakin lama mereka berdiskusi, semakin besar peluang kompromi.”“Kompromi atau kalkulasi ulang.”Ia menoleh sedikit. “Apa bedanya?”“Kalau kompromi, kita dilibatkan. Kalau kalkulasi ulang… kita hanya jadi variabel.”Angin malam berembus tipis.Untuk pertama kalinya, ketegangan bukan datang dari persaingan di antara mereka—melainkan dari ruang tertutup yang tidak bisa mereka masukiDi dalam ruang dewan, Surya
Read more