"Tentu saja nggak masalah, aku ambilkan air untukmu!" Ryan mengambil gelas di atas meja kopi."Nggak usah repot-repot, aku saja yang ambil sendiri!" Laila merebut gelas itu, lalu berjalan menuju dispenser air dengan kesal.Dalam hati, Ryan berpikir, 'Kak Laila ini marah ya? Sampai menuang air saja harus sendiri?'Saat itu, Laila membelakangi Ryan. Tangan putihnya sedikit bergetar, lalu sebungkus kecil bubuk obat muncul di telapak tangannya. Dengan memanfaatkan suara air yang mengalir deras, dia merobek kemasan dan menuangkan bubuk itu ke dalam gelas, lalu mengocoknya hingga rata.Setelah itu, dia berbalik, berpura-pura minum sambil berjalan kembali ke sofa. Dia meletakkan gelas di atas meja kopi."Keuntungan sebesar itu, kamu malah nggak menghiraukannya. Jelas-jelas kamu meremehkanku! Hmph!" Laila mendengus manja. Bibirnya mengerucut, penuh pesona.Melihat Laila tersinggung, Ryan buru-buru meminta maaf, "Kak Laila, jangan marah. Aku nggak bekerja di tempat Kak Laila karena aku masih pu
Read more