"Ah?"Untuk sesaat, Ryan tidak memahami maksud lawan bicaranya. Dia buru-buru mengikat kembali handuk mandi di tubuhnya dan berkata, "Kak Salwa, maaf sekali, tadi aku ....""Nggak apa-apa, kok!" Pipi Salwa memerah, dia menjilat bibirnya perlahan sambil berkata, "Sini, duduk di sampingku!"Setegas apa pun Ryan, saat ini dia sudah mengerti apa maksud Salwa. Hanya saja, perubahan Salwa terasa terlalu mendadak. Tadi masih berwajah serius, kenapa sekarang tiba-tiba jadi begitu lembut dan menggoda?"Ryan, kamu jijik sama Kak Salwa, ya?" Melihat Ryan tidak bergerak, Salwa tak sanggup menahan gejolak di hatinya. Dia berdiri dan melangkah mendekati Ryan dengan inisiatif sendiri."Bukan begitu, Kak Salwa. Aku nggak meremehkanmu. Statusmu terhormat, mohon jaga diri."Saat ini, di mana lagi tersisa wibawa seorang pengusaha wanita papan atas pada diri Salwa? Tentu saja Salwa ingin menjaga diri, tetapi dorongan itu sudah muncul dan sama sekali tidak bisa dia kendalikan. Kesadarannya tenggelam sepenu
Read more