"Kenapa? Bukannya yang aku bilang itu fakta? Bocah ini dari awal sampai akhir cuma habisin kurang dari tiga menit, bisa ngapain? Kalau bukan karena Dokter Kavin sebelumnya menusuk jarum, Paman Chairil pasti nggak bakal bangun!"Ryu bersikeras semua jasa itu adalah milik Kavin. Di sampingnya, Kavin sempat ragu sejenak, lalu memilih diam saja."Kamu ...!" Jelas, kalau soal adu mulut, Mikko bukan tandingan Ryu."Cukup!" Akhirnya, Chairil angkat bicara dan memotong pertengkaran mereka. Saat ini, ayah Mikko terlihat sudah jauh lebih bertenaga. Suaranya juga tidak selemah sebelumnya."Ayah!" Mikko tidak bisa menahan diri untuk memanggil. Dia jelas khawatir ayahnya akan seperti Kenad, percaya omong kosong Ryu. Namun, ucapan Chairil berikutnya langsung menghilangkan kekhawatirannya."Ryu, kamu bisa bawa Dokter Kavin pergi. Oh ya, kalau nggak ada urusan, nggak usah datang ke sini lagi. Keluarga Siregar kami kecil, nggak mampu menjamu dewa besar seperti kamu!" Chairil menatap Ryu yang masih tida
Read More