“Ini suami aku, Mas Radja.” Suara dari rekaman itu memenuhi udara yang hening. Di layar kecil itu, senyum Djiwa mengembang, hangat dan tulus, saat memperkenalkan pria yang duduk di samping kanannya. “Semenjak kenal dia … hidup aku jadi lebih berwarna.” Di sampingnya, Radja hanya tersenyum tipis. Tatapannya tertuju pada wajah istrinya—lembut, penuh arti, sementara Djiwa masih menatap kamera di depan mereka. “Aku gak pernah nyesel jadi istri, jadi ibu, sejak aku punya Mas Radja,” lanjutnya pelan. “Dia segalanya buat aku dan anak-anak. Dia baik, perhatian, dan selalu bertanggung jawab.” Djiwa menoleh pada sang suami. Tatapan mereka bertemu. “Dan dia juga tampan,” tambahnya, membuat sudut bibir Radja terangkat samar. Namun beberapa detik kemudian, senyum itu perlahan memudar. Nada suara Djiwa berubah. Lebih lirih, lebih dalam. “Tuhan, kalau aku harus pergi,” ucapnya pelan, nyaris bergetar, “Tolong jaga dia baik-baik, ya.” Matanya mulai berkaca. “Jangan sakitin dia, jang
Read more