“Kalau bukan karena anak-anak, aku gak akan tetap tinggal di rumah ini, Rin,” ucap Djiwa lirih, suaranya nyaris patah di ujung kalimat. Di seberang telepon, Karin terdiam sejenak, mencoba mencerna. “Maksud kamu … kamu mau pergi? Karena Mas Radja sudah mengkhianati keputusan kamu?” tanyanya hati-hati, memastikan. Djiwa mengangguk pelan, meski ia tahu Karin tak bisa melihat. “Aku kecewa, Rin … aku sakit hati.” Suaranya bergetar, menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. “Walaupun dia ngelakuin itu karena sayang, atau karena mencintai aku sekalipun, aku tetep gak bisa terima. Aku … sedih banget.” Air matanya kembali jatuh. “Anak aku …,” lanjutnya lirih, nyaris berbisik. “Yang seharusnya bisa bernapas di dunia ini, yang seharusnya ketemu kakak-kakaknya, harus pergi.” Napasnya tersendat. “Hanya karena keputusan sepihak Mas Radja.” Di seberang sana, terdengar helaan napas panjang Karin. “Aku ngerti, Wa, aku benar-benar ngerti perasaan kamu,” ucapnya lembut, penuh empati. “Tapi to
Read more