Kedua matanya menatap nanar pada satu titik yang hampa—sebuah kursi kayu berukir klasik di seberang meja makan kecilnya. Di sana, di tempat yang biasanya diisi oleh gelak tawa, aroma kopi hitam pekat, dan tatapan hangat Jacobs, kini hanya ada kekosongan yang membisu. Elena mengaduk sereal di mangkuknya tanpa selera. Pagi di unit apartemen itu terasa sangat dingin, dilingkupi kesunyian yang mencekat. Jacobs belum juga pulang sejak semalam, dan firasat buruk mulai merayapi benaknya.Tiba-tiba, denting bel pintu memecah keheningan apartemen. Jantung Elena melonjak. Semburat senyum lega dan kebahagiaan seketika terbit di wajah cantiknya.Jacobs! Itu pasti Jacobs! pikirnya penuh harap. Tanpa ragu, ia melangkah cepat, hampir berlari, lalu menarik gagang pintu lebar-lebar.Namun, senyum di bibir Elena seketika membeku.Bukan Jacobs yang berdiri di ambang pintu, melainkan sosok pria beraksen dingin bersetelan jas serba hitam yang sangat familier: Luca. Di belakang Luca, berdiri dua pria
Huling Na-update : 2026-09-25 Magbasa pa