FAZER LOGINMatahari merambat naik menuju puncaknya saat mobil mewah yang membawa Elena memasuki pelataran sebuah bungalow megah bernuansa arsitektur Mediterania di pusat kota Palermo.Saat melangkah keluar dari mobil, mata Elena membelalak melihat deretan mobil-mobil supercar dan sedan mewah berplat khusus berjejer rapi di halaman. Nuansa kekayaan yang sangat intimidatif. Rasa gugup mendadak merayapi dadanya—ia akan berhadapan dengan keluarga besar Alando yang berkelas tinggi.Rebecca, kepala pelayan wanita berpenampilan anggun, bersama dua orang pelayan muda langsung menyambut kedatangan Elena dengan bungkukan khidmat. "Selamat datang, Nona Elena. Silakan ikuti kami."Elena dibimbing menuju sebuah ruangan rias raksasa di lantai dua. Ruangan itu dikelilingi lemari-lemari kaca yang memajang gaun-gaun haute couture edisi terbatas, deretan tas berbahan kulit eksotis, sepatu berhak tinggi, serta perhiasan berlian yang berkilauan di bawah lampu sorot.Dengan sigap dan terampil, Rebecca dan para
Kedua matanya menatap nanar pada satu titik yang hampa—sebuah kursi kayu berukir klasik di seberang meja makan kecilnya. Di sana, di tempat yang biasanya diisi oleh gelak tawa, aroma kopi hitam pekat, dan tatapan hangat Jacobs, kini hanya ada kekosongan yang membisu. Elena mengaduk sereal di mangkuknya tanpa selera. Pagi di unit apartemen itu terasa sangat dingin, dilingkupi kesunyian yang mencekat. Jacobs belum juga pulang sejak semalam, dan firasat buruk mulai merayapi benaknya.Tiba-tiba, denting bel pintu memecah keheningan apartemen. Jantung Elena melonjak. Semburat senyum lega dan kebahagiaan seketika terbit di wajah cantiknya.Jacobs! Itu pasti Jacobs! pikirnya penuh harap. Tanpa ragu, ia melangkah cepat, hampir berlari, lalu menarik gagang pintu lebar-lebar.Namun, senyum di bibir Elena seketika membeku.Bukan Jacobs yang berdiri di ambang pintu, melainkan sosok pria beraksen dingin bersetelan jas serba hitam yang sangat familier: Luca. Di belakang Luca, berdiri dua pria
Sinar matahari pagi menerobos masuk melintasi jendela ruang perawatan rumah sakit. Jacobs dan Edoardo kembali datang menjenguk Mario. Kondisi sang detektif muda tampak menunjukkan peningkatan pesat; rona wajahnya mulai kembali dan ia sudah bisa menyunggingkan senyum lebar menyambut kedatangan dua rekannya."Bagaimana keadaanmu pagi ini, Mario?" tanya Edoardo seraya menduduki kursi di samping tempat tidur."Jauh lebih baik, Edo," jawab Mario gurau. "Rasa sakitnya kalah oleh rasa bosan berbaring di sini."Jacobs melangkah maju, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Mario... sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu malam itu."Senyum di wajah Mario perlahan pudar, digantikan oleh kenangan mencekam yang membuat bulu kuduknya berdiri."Malam itu, setelah aku pulang dari rumah pacarku..." Mario memulai ceritanya dengan suara pelan. "Di persimpangan jalan sepi, sebuah truk tanpa plat nomor tiba-tiba menghantam sepeda motor dari arah samping dengan kecepatan
Suasana di dalam Muller Bridal terasa bagai dunia dongeng. Elena berdiri di atas podium bundar berlapis karpet beludru merah, mengenakan gaun pengantin model ballgown berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menjuntai indah. Renda-renda halus melapisi bahunya, membuat wajah cantiknya kian terpancar.Betty melayaninya dengan tingkat ketelitian luar biasa, membetulkan setiap lipatan kain seolah Elena adalah seorang putri kerajaan yang akan menikah dengan raja dunia bawah tanah.Elena memutar tubuhnya di depan cermin besar, matanya berbinar-binar. Ia menoleh ke arah Rebecca yang berdiri kaku di dekat pintu masuk."Rebecca, bagaimana menurutmu? Apakah gaun ini terlalu berlebihan?" tanya Elena dengan nada riang.Sebelum Rebecca sempat menjawab, sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan penuh keanggunan terdengar menggema dari arah pintu masuk."Sangat cantik, Elena! Kau sangat cantik dengan gaun itu!"Elena terperanjat. Ia menoleh cepat.Rebecca langsung membungkukkan badan
Hari telah sepenuhnya disapu oleh pekatnya malam ketika Elena melangkah masuk ke dalam unit apartemennya. Perasaan lelah pasca-mengunjungi bridal boutique milik Betty Muller masih mengayungi langkahnya, namun kegelisahan tentang Jacobs jauh lebih melingkupi dadanya. Elena menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar dengan napas helaan berat.Kerinduan dan kepanikan berbaur menjadi satu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjang, kembali mencoba menghubungi nomor telepon kakaknya.Di saat yang bersamaan, beberapa kilometer dari sana...Ponsel milik Jacobs—yang sengaja tertinggal di atas meja tamu rumah Edoardo sewaktu Jacobs pergi bergegas tadi—terus berdering nyaring. Di sudut dapur terbuka, Nigel yang sedang menyeduh cangkir kopi panas menghentikan kegiatannya. Pria tua itu melangkah mendekat, memandang layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Elena". Dengan penuh keraguan, Nigel menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke
Suara gemercik hujan gerimis yang mengguyur Kota Roma sore itu tidak mampu memadamkan api amarah yang membakar dada Detektif Jacobs. Mobil sedan hitam yang dikendarainya berhenti mendadak tepat di depan pelataran gedung apartemen megah bernuansa abu-abu gelap. Di sampingnya, Edoardo menyesuaikan posisi pistol di balik jasnya, matanya terus melirik ke sekeliling area yang tampak tenang—terlalu tenang untuk ukuran tempat tinggal seorang kriminal.Menurut informasi yang diperas James dari informan jalanan, di sinilah Louis tinggal. Pria yang menyewa mobil yang dicurigai membawa Mario sebelum sekretaris kepolisian itu menghilang tanpa jejak.Jacobs melangkah lebar melintasi pintu kaca otomatis, disusul Edoardo yang menjaga jarak aman. Tanpa basa-basi, Jacobs memotong antrean kecil di depan meja resepsionis dan menghempaskan lencana kepolisiannya ke atas permukaan marmer yang mengilap."Kepolisian Roma. Saya butuh data penghuni atas nama Louis. Sekarang," gertak Jacobs, nadanya tidak m







