LOGIN| Khusus Dewasa | Michele Lazzaro Riciteli, Bos Mafia paling sadis dan di takuti di Roma. Parasnya yang tampan dan dingin membuat pria 30 tahun ini sangat berkharisma. Namun di balik semua itu, Michele mengidap satu penyakit langka. Penyakit yang membuatnya tidak bisa merasakan rasa sakit meski puluhan peluru bersarang di tubuhnya. Tak hanya itu, pria dengan postur tinggi kekar ini pun tak bisa mencapai puncak saat berhubungan intim dengan para wanita. Penyakit itu membuatnya frustasi dan berakhir menjadi mesin pembunuh berdarah dingin. Di suatu pesta Michele terlibat malam panas dengan seorang wanita asal Virginia bernama Meghan Crafson. Dia sangat terkejut karena bisa merasakan sensasi yang dicarinya selama ini, saat bercinta dengan Meghan. Hari berikutnya Michele mengirim orang-orang bayaran untuk mencari dan menculik Meghan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah Meghan dan mengapa Michele ingin menculiknya?
View MoreRain hammered against the windows of the speeding taxi, blurring the city lights into streaks of gold and blue. Su Panni tightened her grip on her phone, her pulse racing as her sister’s last frantic words echoed in her ear.
“Just go to my place—please! I’ll explain later!”
Explain later.
That was always Su Annie’s line, a promise that never came with answers.The taxi swerved through traffic, cutting through a storm that seemed determined to rip the night apart. Panni’s reflection in the window looked like a stranger—perfect makeup, curled hair, the expensive cream blazer Annie shoved at her earlier. She looked nothing like the exhausted, practical woman she truly was.
She looked like her twin.
But no amount of makeup could hide the dread clawing at her stomach.
“This is the address, miss.” The driver stopped in front of an upscale private restaurant, the kind reserved for politicians, billionaires, and people who didn’t work three part-time jobs to survive.
Panni stepped out into the storm’s assault. A valet rushed forward, umbrella in hand, clearly expecting someone important. She walked beneath it, shoulders tight, heart thundering. Her heels clicked sharply against marble tiles as she entered the lobby.
Warm light. Soft violin music. A receptionist who greeted her with a perfectly practiced smile.
“Miss Su? You’re expected. This way.”
Expected.
Her sister had set this up.Panni’s steps felt heavier with every stride down the private corridor. Rainwater slid from her coat, each droplet cold against her skin. She reached the final door just as the receptionist bowed and disappeared.
Panni exhaled once—shaky, uncertain—then pushed the door open.
And froze.
A single man sat inside the private dining room, framed by the amber light of a chandelier. He didn’t look up immediately; he didn’t need to. His presence filled the space even in silence.
Jinyan Lu.
CEO of Lu Corporation.
Power wrapped in precision; elegance sharpened into steel.
Panni had seen him in magazines, on television, across news headlines—but seeing him in person was different. His expression was calm, but his posture radiated command. When he finally raised his gaze toward her, the impact was immediate.
Cold. Intelligent. Assessing.
“You’re late,” he said—no greeting, no warmth.
Panni swallowed. “I—I’m sorry. The storm—”
“Storms are predictable. Being unprepared is not.” He closed the file in front of him. “Sit.”
The word wasn’t a request. It was a decision already made.
Panni moved stiffly into the chair opposite him, her pulse ringing in her ears. She had walked into the wrong room, the wrong meeting, the wrong life.
He opened the file again. “We will begin with the terms.”
“The… terms?” Panni whispered.
“For the marriage.”
Her breath stopped.
Marriage.
Her heart slammed painfully against her ribs. This wasn’t a business meeting. This wasn’t a misunderstanding that could be excused.
Her sister—her reckless, impossible sister—had thrown her into a contract marriage negotiation with Jinyan Lu.
Panni felt the floor tilt beneath her.
“There must be some mistake—”
“There is no mistake,” he cut in, his tone smooth but unyielding. “You agreed to the meeting. You agreed to the arrangement.”
Agreed?
Her sister must have made the agreement. But Annie wasn’t here.Panni’s voice came out barely audible. “Can you… tell me why you need this?”
“It isn’t why I need it.” His jaw tightened, the first flicker of emotion breaking through. “It’s why I must honor it.”
He slid a contract toward her with deliberate precision.
“My grandmother’s last wish.” His eyes lowered briefly. A shadow crossed his expression, one she couldn’t decipher. “She wanted to see me settled, with someone who could stand beside me. I intend to fulfill that, regardless of circumstance.”
Panni didn’t move. She couldn’t.
“I believe,” he continued, “that you are capable of handling this role. And I have no interest in sentimentality. This marriage would be mutually beneficial.”
Panni stared at the contract.
Rules. Conditions. Boundaries.
No emotional involvement.
No public scandals. No lies.Her vision blurred. She had already violated the last one.
“Miss Su,” Jinyan said quietly, “is something the matter?”
Everything.
Everything was the matter.But Panni straightened, trying to keep her voice steady.
“What if… I’m not the woman you think I am?”
He leaned back slightly, eyes narrowing. “Explain.”
Panic clawed up her throat. If she told the truth, her sister would be ruined. Destroyed. The Lu family wouldn’t simply shrug off the deception.
Panni forced a faint smile. “I only meant… I’m not confident whether I meet your expectations.”
A heavy silence fell.
Then, unexpectedly, his gaze softened by a fraction—barely enough to notice.
“Confidence can be learned,” he said. “Integrity cannot. And despite arriving late, you still came. That alone suggests you’re willing to uphold commitments.”
Panni bit her lip. If only he knew.
Jinyan tapped the contract lightly. “If you have concerns, voice them.”
She had a thousand. But none she could safely reveal.
Instead, she found herself asking the question she dreaded:
“What exactly… would be expected of me?”
His answer was calm. “To be my wife in name. To accompany me publicly. To maintain privacy. To uphold my grandmother’s trust.”
“Nothing more?”
“Nothing more,” he echoed—but his eyes lingered on her a moment too long, as if searching for something he couldn’t name.
The rain intensified outside. Thunder rumbled like an omen.
Panni looked down at the contract again. Every path ahead of her looked dangerous—but only one could protect the people she loved.
Her hand trembled as she lifted the pen.
Jinyan watched her closely, unreadable.
With a breath that shook her entire body, Su Panni signed the contract—stealing her sister’s place, her name, and a future that didn’t belong to her.
When she lifted her eyes, Jinyan’s expression had shifted—approval mixed with a hint of something darker.
“Welcome to the arrangement,” he said softly.
Before she could respond, her phone buzzed violently in her pocket.
A single message.
From an unknown number.“You shouldn’t have signed that. You’re not Su Annie.”
Panni’s blood ran cold.
Roma, Italia.Kediaman Don Lazaro Riciteli.Fajar baru saja pecah di cakrawala Roma, namun di dalam kediaman Lazaro Riciteli, atmosfer terasa seberat timah. Kabar mengenai kepulihan George baru saja tiba, namun itu tidak cukup untuk meredakan badai yang sedang bergejolak di benak sang penguasa tua."Tuan Muda sudah mulai stabil. Dokter Arian sedang menjahit lukanya dan memantau kondisinya secara intensif." Ernesto membungkuk dengan hormat, suaranya gemetar oleh kelelahan dan rasa takut yang masih tersisa. Setelah Lazaro mengibaskan tangan dengan gerakan abai, pelayan tua itu segera menghilang di balik pintu mahoni."Sepertinya kita perlu menambah unit pengawal lagi untuk melindungi George. Roma tidak lagi aman untuknya," suara itu berat dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan.Carlo Matius Riciteli. Pria itu baru saja menginjakkan kaki di Roma setelah perjalanan panjang. Wajahnya yang tegas menyimpan kesedihan yang mendalam. Seharusnya ia menemui keponakannya, George, namun sang Ra
Angin musim panas di Milan tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi seorang Riciteli. Saat jet VIP pribadi itu menyentuh landasan di padang rumput tandus pinggiran kota, deru mesinnya seolah mengoyak keheningan petang yang lembap. Debu dan kerikil beterbangan, menciptakan badai kecil di sekitar burung besi raksasa yang angkuh itu.Pintu jet bergeser ke samping dengan suara hidrolik yang halus. Dua bodyguard berpakaian taktis segera mengambil posisi, membungkuk dalam-dalam saat George Lazaro Riciteli melangkah keluar.George berdiri di ambang pintu pesawat, membiarkan angin kencang menerpa kemeja sutranya yang mahal. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma rumput kering dan polusi tipis yang khas dari kota favorit ayahnya. Milan. Di sinilah dinasti Riciteli menanam akar kekuasaannya, dan di sini pula George merasa takdirnya sebagai "Klan Riciteli" yang tunggal terasa begitu nyata sekaligus menyesakkan.Di bawah sana, Luca Amadeus berdiri di barisan depan bersama sepuluh bodyguard
Fajar menyingsing di atas cakrawala Mediterania, namun cahaya emasnya tidak mampu menyinari kegelapan yang baru saja dilarung ke dasar laut.Dua pria berwajah dingin menjatuhkan bungkusan plastik hitam dari dek kapal cepat. Tubuh Adela yang malang tenggelam, ditelan kedalaman air yang dingin untuk selamanya. Di dunia ini, nyawa seorang gadis tak lebih dari sekadar statistik di bawah kaki klan Riciteli.Beberapa mil dari lepas pantai, sebuah truk pengangkut pakan ternak melaju membelah kabut fajar yang menyelimuti tebing-tebing putih Roma. Di kabin belakang yang sempit dan berbau apek, seorang gadis duduk dengan punggung tegak, dekapannya pada laras senapan panjang begitu posesif.Bella Austin Castaro.Di usianya yang ke-25, ia adalah legenda hidup di dalam barak Organisasi EXO. Tatapannya setajam belati, dan jari telunjuknya adalah hakim bagi siapa pun yang masuk dalam bidikannya. "Elang Betina," begitulah rekan-rekannya menjulukinya.Bella mencengkeram badan senapan laras panjangnya
Sequel dari novel Di Atas Ranjang Mafia season 2 karya DW AMOUR "Darah Riciteli adalah kutukan, dan George adalah puncaknya."Di bawah jari manisnya, Cincin Kepala Naga bukan lagi sekadar simbol kekuatan, melainkan belenggu. George Lazaro Riciteli kini bertahta di atas tumpukan mayat dan kejayaan Roma, namun jiwanya mati di tengah depresi yang menghancurkan. Baginya, dunia hanyalah tentang darah yang tumpah atau kepuasan sesaat di atas ranjang. Dialah raja yang gila sepanjang sejarah Mafia.Bella Austin Castaro, sang sniper berdarah dingin, tidak pernah meleset. Baginya, George hanyalah target yang harus musnah demi kedamaian dunia. Namun, saat teropong bidiknya bertemu dengan mata hijau George yang kelam, segalanya berubah. George menginginkan Bella-bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya. Di bawah atap kastil yang penuh rahasia, Bella menyusup sebagai kekasih, sementara jarinya tetap berada di pelatuk, menunggu waktu yang tepat untuk mengirim sang Raja Mafia ke neraka.Saat cinta menja
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore