FAZER LOGIN| Khusus Dewasa | Michele Lazzaro Riciteli, Bos Mafia paling sadis dan di takuti di Roma. Parasnya yang tampan dan dingin membuat pria 30 tahun ini sangat berkharisma. Namun di balik semua itu, Michele mengidap satu penyakit langka. Penyakit yang membuatnya tidak bisa merasakan rasa sakit meski puluhan peluru bersarang di tubuhnya. Tak hanya itu, pria dengan postur tinggi kekar ini pun tak bisa mencapai puncak saat berhubungan intim dengan para wanita. Penyakit itu membuatnya frustasi dan berakhir menjadi mesin pembunuh berdarah dingin. Di suatu pesta Michele terlibat malam panas dengan seorang wanita asal Virginia bernama Meghan Crafson. Dia sangat terkejut karena bisa merasakan sensasi yang dicarinya selama ini, saat bercinta dengan Meghan. Hari berikutnya Michele mengirim orang-orang bayaran untuk mencari dan menculik Meghan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah Meghan dan mengapa Michele ingin menculiknya?
Ver mais"Shit! Beraninya kau mengotori kakiku!" gertak Michele dengan mata berapi-api.
Wanita itu tergugup dengan mata yang basah."Tu-Tuan, maafkan saya. Itu terlalu kental dan banyak. Saya tak mampu menelan semuanya," lirihnya ketakutan. Masih dengan wajah yang dipenuhi emosi, Michele pun bangkit. "Itu bukan urusanku! Aku sudah membayar mu! Kau benar-benar payah!" gertaknya seraya melempar wanita itu sampai terjerembab ke sofa. "Ma-maafkan saya, Tuan." Wanita itu berusaha bangkit, lantas mundur ketakutan saat Michele mendekat. Pangeran Mafia Riciteli, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun berdiri di depan wanita itu. Dia menatapnya sudah seperti iblis yang ingin makan orang. Percuma dia membayar mahal pada Madame Rose, ternyata wanita ini tidak mampu membuatnya merasakan kenikmatan sensasi yang diinginkan. Dengan gerakan tak terduga, Michele menyambar revolver yang tergeletak di atas meja. Dia lantas menodongkan ujung senjata itu ke wanita di depannya. Tepat di pertengahan kedua alisnya, ia mengincar. Wanita itu dibuat sangat terkejut sekaligus ketakutan. "Tuan, tolong maafkan saya! Jangan bunuh saya!" raungnya dalam tangis dan tubuh yang gemetaran. "Kau tidak mampu membuatku puas. Matilah kau." Duar! Mata wanita itu membulat penuh, dengan mulut yang terbuka tanpa suara. Tubuhnya yang polos terhempas ke sofa tanpa perhitungan. Lubang peluru tercetak di dahinya dengan sempurna bak sebuah maha karya. Matanya masih melotot saat tubuhnya terhempas tak bernyawa lagi. Mendengar ada suara tembakan dari dalam kamar VIP di mana bosnya berada, Sergio dan dua orang bodyguard bergegas memeriksa. "Bos, apa yang terjadi? Anda baik-baik saja?" tanya Sergio dengan wajah panik saat memasuki kamar. Semuanya dibuat terkejut saat melihat wanita muda yang semalam mereka bawa sudah tergolek di sofa dengan kondisi mengenaskan. Sementara Michele sedang berdiri sambil menutup kancing lengan kemejanya. Wajah pria itu tenang-tenang saja. "Cepat singkirkan sampah itu dari sini!" perintahnya acuh tanpa memalingkan pandangan dari siluet yang muncul pada standing mirror di depannya. "Baik, Bos!" Sergio segera menyuruh dua orang bodyguard untuk mengurus mayat wanita di sofa. Dia tidak banyak bertanya pada Michele. Sergio Lorenzo, pria itu sudah bekerja pada ayah Michele sejak lama. Hingga saat Bos Besar Mafia wafat, Sergio mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani Michele selaku ahli waris Kerajaan Mafia peninggalan Don Lazaro Riciteli selanjutnya. "Bos, Tuan Alberto ingin menemui Anda." Empat jam berlalu, Sergio menemui Michele yang sedang duduk santai di teras balkon sambil menikmati sebatang rokok. "Mau apa pria tua itu menemuiku? Apakah dia sudah bosan hidup?" Michele menanggapi dengan acuh. Bibirnya mengulas senyum getir melihat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap pada kuntum-kuntum Jacaranda. Sedikit ragu Sergio menjawab, "Sepertinya Tuan Alberto ingin melihat putrinya." Michele masih bergeming dengan pandangan dingin ke arah makhluk indah di luar jendela. Entah apa yang pria itu sedang pikirkan. Ada rumor yang mengatakan jika Michele tak hanya mengidap penyakit langka, tetapi dia juga seorang psikopat. Menghabisi nyawa orang sudah menjadi passion pria itu. Bahkan, dia selalu membawa pistol ke mana pun dirinya pergi, dan menyimpannya di bawah bantal saat ia tertidur. Baginya, kupu-kupu tak berbeda dengan para jalang yang sudah dirinya bayar. Mereka payah dan tidak berguna. Sergio hanya memandangi dengan perasaan tak habis pikir. Kenapa Tuan Muda Riciteli memiliki kelainan aneh seperti itu? Tak hanya gemar menyiksa makhluk kecil semacam kupu-kupu, Michele juga sering menyayat lengan para pelayan di mansion jika sedang bosan. Bahkan menembak para bodyguard tanpa alasan. Dia tidak hanya psikopat, tetapi juga monster yang mengerikan! Sergio sangat terkejut saat Michele menoleh ke arahnya. Manik kebiruan pria itu membuatnya takut. Dia bergerak mundur satu langkah saat Michele mendekat. "Katakan, apa gadis bodoh itu masih hidup?" tanya Michele pada Sergio sambil memainkan pistol di tangannya. "Masih. Namun, sepertinya dia sudah sekarat." Sergio dibuat terkejut saat Michele melotot padanya. Apakah dia salah berucap? "Kenapa dia belum mati juga? Aku tak mau Alberto kembali berkumpul dengan putrinya," desis Michele ke wajah Sergio. "Jika itu keinginan Anda, maka aku akan menghabisinya." Sergio berusaha tenang meski tatapan tajam Michele nyaris membunuhnya dalam rasa ketakutan. "Kau sudah bekerja keras selama ini, kali ini biar aku yang mengurus gadis itu. Kau pergilah, hubungi Alberto dan katakan jika putrinya akan segera di pulangkan," ucapnya, lantas mundur dari hadapan Sergio disertai seringai tipis yang mengerikan. Sergio menghela nafas panjang. Apa yang mau Michele lakukan pada gadis malang itu? Dipandangi punggung lebar pria itu yang menjauh darinya. *** "Selamat sore, Bos!" "Silakan masuk!" Michele berjalan cepat memasuki ruangan yang berada di lantai bawah tanah sebuah markas ilegal. Dua orang bodyguard membuka pintu untuknya dan mengantarnya masuk. Ruangan dengan pencahayaan remang menyambut, Michele menghentikan langkah agak jauh dari beberapa pria yang sedang mengelilingi sebuah meja biliar. Di tengah meja biliar itu tampak seorang gadis yang terlentang pasrah tanpa busana. Tangan dan kakinya terikat ke masing-masing sisi meja. Kondisinya sangat mengenaskan. "Berikan aku kabar terbarunya," ucap Michele seraya menaruh sebatang cerutu di mulutnya dengan santai. "Gadis itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Orang-orang politik sudah melakukan koalisi." Seorang bodyguard bergegas maju dan langsung menyalakan korek api untuk bosnya. Michele menghembuskan asap cerutunya ke udara. Kemudian dia berjalan menuju gadis itu. "Kami sudah membantainya dua hari ini. Dia cukup menyenangkan," ucap seorang pria yang berdiri di sekitar. Mereka anak buah Michele. "Benarkah?" Michele menyeringai tipis sambil memandangi gadis yang sedang tergolek tak berdaya di hadapannya. Tubuh gadis itu dipenuhi jejak kekejaman, luka gigitan dan sayatan yang menjadi peta penderitaannya selama dua hari terakhir. Tiga hari yang lalu orang-orang Michele menculik gadis itu dari kampus. Dia putrinya Alberto--si pesaing partai kolega Michele. Mereka hanya di bayar untuk menculiknya karena perang politik yang sedang terjadi di antara dua kubu partai. Emily Castaro, gadis tak berdosa itu harus menjadi korban penculikan, penyekapan dan kekerasan yang dilakukan komplotan para Mafia. Usianya baru 20 tahun, dia nyaris tewas karena penyiksaan yang dialaminya selama dua hari terakhir. "Tinggalkan aku sendiri!" perintah Michele pada semua anak buahnya. "Baik, Bos!" Semua orang pergi. Tinggallah Michele dan Emily di ruangan itu. Pria tinggi dengan gambar tato di pergelangan tangannya tersenyum manis seraya mencondongkan wajahnya pada Emily. Gadis itu menatap Michele penuh amarah dan ketakutan. "Gadis belia yang malang. Sebelum mati kau harus tahu siapa orang di balik semua ini," bisik Michele ke wajah Emily yang pucat. Jemarinya membelai pipi hingga rahang lebam gadis itu. "Tuan, kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pulang," lirih Emily dengan tatapan sendu. Suaranya nyaris tidak terdengar. Michele menggeleng."Tidak, Sweetie. Jika kau pulang maka para gangster akan menangkapmu. Ayahmu memiliki banyak masalah dan musuh. Dia yang membuatmu berada di sini," bisiknya lagi. "Itu tidak mungkin," lirih Emily. "Mungkin saja, karena ayahmu lebih memilih partainya daripada putrinya sendiri. Kau tahu itu?" desis Michele, lantas menyeringai tipis. Emily terdiam dalam rasa kecewa. Teganya sang ayah telah menjadikan dia korban untuk kelancaran partainya. Dia tak bisa percaya semua ini. Melihat Emily menangis, Michele mulai muak dibuatnya. Kemudian diraih kawat baja dari saku jas hitam yang membalut tubuh atletisnya. Dengan cepat dia menjerat leher gadis itu. "Aarkkhh!" Emily sangat terkejut saat Michele menjerat lehernya. Dia mengerang kesakitan. Kawat baja itu amat dingin dan tak kenal ampun, mengklaim lehernya dengan eratan mematikan. Dia tak bisa berontak, sebab kedua tangan dan kakinya diikat. Matanya yang basah menatap ke wajah Michele. Tatapan itu memohon padanya. Namun, Bos Mafia sadis menolaknya. Tangannya semakin kuat menjerat leher gadis itu. Tangan dan kaki Emily berhenti bergerak. Mata basah gadis itu melotot ke atas. Bekas kawat baja mengukir sebuah garis merah gelap di leher Emily. Darah segar mulai merembes, menyerupai kalung beludru yang mengerikan. Dia terbaring anggun dalam kebinasaan, seperti patung yang baru saja diukir dengan ketidakpedulian yang brutal. "Tidurlah, Sayangku. Tugasmu sudah selesai di sini," bisik Michele ke telinga Emily. Bibirnya menyeringai tipis melihat gadis itu sudah tak bernyawa lagi."Kau anak pembangkang! Ayah hanya ingin kau lebih dewasa dalam berpikir, Alando!" sebuah suara bariton yang berat dan bergetar karena amarah terdengar menggelegar.Elena tersentak kaget. Apa yang terjadi di dalam? Ia menoleh ke sekitar, tak ingin ada para suster atau orang lain yang mendengar kegaduhan itu. Didorong oleh rasa kemanusiaan dan insting dokternya yang khawatir akan kondisi psikologis pasiennya yang baru sadar, Elena memberanikan diri melangkah mendekat ke arah celah pintu."Anak tak tahu diuntung!" suara pria tua itu kembali terdengar, kian meninggi dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Aku hanya ingin kau segera menikah dan mulai bersikap lebih serius mengurus masa depan perusahaan kita! Jika kau terus-menerus membangkang seperti ini, lebih baik kau tidak perlu pulang ke Milan selamanya! Lupakan bahwa kau masih memiliki seorang Ayah yang sudah tua... dan memiliki penyakit jantung ini!"Elena tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang saat melihat siluet pria tua d
Hujan mulai mereda. Butiran bening terjun bebas dari kaca jendela berembun. Setelah selesai mengikat simpul perban, Elena mengembuskan napas lega. Ia menatap wajah George dengan penuh rasa ingin tahu. Pakaian yang dikenakan pria ini terbuat dari bahan sutra dan wol Italia kelas tinggi, jam tangan di pergelangan tangannya seharga ratusan ribu euro—penampilannya sangat jelas mengindikasikan seorang pengusaha muda sukses. "Luka Anda sudah berhasil dijahit dan dibersihkan, Tuan," ujar Elena lembut sembari melepas sarung tangan medisnya. "Tapi... apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang pengusaha seperti Anda di bangsal anak rumah sakit ini? Apakah Anda sedang mencari anak atau keponakan Anda yang dirawat di sini?" George baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab, ketika tiba-tiba— 𝘉𝘙𝘈𝘈𝘒! Pintu ruang tindakan medis terdorong keras dari luar. "TUAN MUDA! APA ANDA BAIK-BAIK SAJA?!" Elena dan Joice tersentak kaget, seketika menoleh ke arah pintu. Sejumlah pria
"Halo, Tuan Luca.." "Ya, Kapten. Apa?" Panggilan tersebut terhubung langsung ke Sisilia, diterima oleh Luca yang saat itu berdiri tegak di belakang George Riciteli. Setelah mendengarkan laporan singkat dari Kapten Smith di Roma, Luca menutup telepon lalu melangkah mendekati bos besarnya. Di dalam kamar griya tawang mewah yang luas di Sisilia, George Riciteli berdiri membelakangi ruangan, memandangi gemerlap lampu kota melalui dinding kaca besar. Ia memejamkan matanya erat-erat saat mendengar laporan dari bibir Luca bahwa Bella baru saja kembali melakukan aksi nekat di Roma dan hampir membuat identitasnya terbongkar jika Smith tidak segera membungkam korbannya. "George..." Luca bersuara dengan nada yang sangat berat. "Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Bella lepas kontrol seperti ini. Pihak kepolisian Roma, bahkan yang kita bayar sekalipun, tidak akan mampu lagi menahan gelombang tekanan dari ribuan warga yang terus berdemonstrasi menuntut penangkapan pelaku pembunuhan ber
Malam memeluk ibu kota Roma dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Hujan deras mengguyur permukaan jalanan batu yang basah, menciptakan kilatan pendar dari lampu-lampu jalanan tua yang remang-remang. Di salah satu gang sepi tak jauh dari kawasan pusat hiburan, berjalan sesosok wanita berpakaian gaun malam merah menyala. Bella Austin Castaro melangkah dengan keanggunan seorang predator mematikan. Tangan kirinya memegang sebuah payung hitam besar yang melindungi rambut gelapnya dari tumpahan air hujan, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebilah pisau belati berlekuk tajam yang berkilau di bawah temaram lampu. Bibir tipis berpoles gincu merah darah itu melengkung, membentuk seringai lapar yang mengerikan. Sepasang mata indahnya memancarkan aura kegilaan tanpa dasar. Beberapa puluh meter di depannya, seorang gadis muda berlari ketakutan setengah mati. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar seiring langkah kakinya yang menghempas genangan air hujan. Sesekal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais