Wenny berlari menuruni tangga. Kakinya masih terasa lemas.Dia tampak ragu apa dia harus memberi tahu Clara tentang masalah ini.Kalau tidak bilang, hati nuraninya tidak tenang. Namun, kalau bilang, dia mungkin akan dalam bahaya…Tepat di saat dia mengangkat ponselnya untuk menghubungi sebuah nomor, sesosok muncul di belakangnya tanpa dia sadari dan merampas ponselnya.Melihat wajah Sindy, wajah Wenny yang tadinya sudah terkejut langsung menjadi pucat pasi."Kenapa? Kamu mau sampaikan apa yang kamu dengar pada Clara?"Wenny gemetar hebat sampai tidak berani menjawab.Sindy tersenyum tipis dan mengembalikan ponselnya. "Kamu boleh kasih tahu Clara, tapi sebaiknya kamu pikirkan baik-baik dulu akibat dari melawanku di rumah sakit.""Kalau kamu masih mau lanjut bekerja di industri ini, aku sarankan, pintar-pintarlah. Di dunia ini, kalau nggak punya koneksi, mending belajar pura-pura bodoh saja." Sindy mendekatinya sambil tersenyum. "Selain itu, kalau kamu bantu Clara, apa keuntungan yang bi
Read more