"Pft!"Najeela menyemburkan semua jus yang baru saja diminumnya.Dengan panik, dia mengeluarkan tisu untuk mengelap mulutnya, lalu dengan kaku menoleh ke arah Clara. "Kamu serius?""Tentu saja!""Kamu nggak tanya pendapat ... kakakmu dulu?"Clara menundukkan matanya, mengerucutkan bibirnya, tersenyum, lalu duduk tegak sambil berkata, "Kakakku jarang berinisiatif terhadap seorang perempuan, tapi pas kamu nggak pulang tadi malam, dia bahkan pergi mencarimu. Aku nggak percaya dia nggak punya perasaan padamu."Najeela sedikit mempererat cengkeramannya pada cangkir. Dia membuka mulutnya, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa."Sudah, sudah, aku juga nggak bermaksud menjodohkan kalian. Kalau kamu nggak menyukai kakakku, percuma saja aku menjodohkan kalian. Aku cuma ingin kamu tahu kalau kakakku tertarik padamu. Lagian, aku juga bukan tipe orang yang picik. Sekalipun kamu nggak bisa menjadi kakak iparku, kamu tetap akan menjadi temanku!"Clara mengucapkan kata-kata ini untuk menenangkan Naje
Mehr lesen