“Kamu kenapa, Saras?” tanya Dennis ketika melihat perubahan ekspresi Saras. Wajah Saras sempat menegang, lalu cepat-cepat ia sembunyikan.“Nggak apa-apa, Pak.” Saras memaksa tersenyum, lalu menambahkan, “O ya, Pak… terima kasih kiriman sarapannya.”Sebuah senyum muncul di bibir Dennis, hangat, tulus, dan membuat suasana justru semakin rumit bagi Saras.“Syukurlah kalau kamu suka,” katanya pelan. “Lain kali aku kirim lagi. Untuk makan siang, mungkin.”Saras langsung terbatuk kecil, gugup. “Enggak usah, Pak.”Dennis mengerutkan dahi. “Kenapa?”“Saya nggak mau merepotkan,” jawab Saras, mencoba tetap sopan. Ia merapikan map dan alat tulis di mejanya, berusaha terlihat sibuk agar tidak harus menatap mata pria itu.Dennis justru tersenyum lembut, seperti seseorang yang tidak melihat itu sebagai penolakan.“Nggak repot, kok. Tinggal pesan saja.”Saras terdiam sejenak. Ia memalingkan wajah, tidak ingin Dennis melihat rona wajahnya yang mulai memanas.“Tapi nanti orang kantor, salah paham.”“B
Last Updated : 2026-01-31 Read more