Pagi itu udara kampung terasa berbeda — cerah, ringan, dan penuh harapan. Seolah alam ikut tahu bahwa kehidupan Arga dan Aisyah sedang berbelok ke arah yang lebih baik. Sejak papan toko baru terpasang, pelanggan makin banyak. Warga yang dulu ragu kini datang menitipkan jualan, dan setiap hari selalu ada wajah baru yang mampir.Arga duduk di depan kios sambil menandai daftar titipan warga di buku besar. “Telur kampung dari Bu Eni, madu hutan dari Pak Dayat, keripik pisang dari Bu Imah…” Ia menulis rapi, sementara Aisyah sibuk menata rak baru yang mereka buat dari papan bekas.“Ga, kita butuh rak tambahan kalau mau muat semua ini,” katanya.Arga mengangguk. “Aku nanti ke bengkel kayu, pesen satu lagi.”Suasana terasa damai, sampai suara motor berhenti di depan. Dari atas motor turun Pak Lurah bersama seorang pria berjaket abu-abu, membawa map tebal.“Assalamualaikum, Pak Arga,” sapa Pak Lurah dengan senyum lebar.“Waalaikumsalam, silakan, Pak,” jawab
Last Updated : 2025-10-07 Read more