Dua hari setelah insiden yang meruntuhkan kesadarannya di ruang bimbingan Adrian, Aira duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan wajah yang masih pucat pasi. Nita, yang setia menemani di sampingnya, meletakkan nampan berisi bubur hambar yang nyaris tak tersentuh. “Ra, please kali ini aja, dengerin saran dokter dan aku. Fokus istirahat dulu, minimal seminggu sampai kamu benar-benar pulih total. Ra,” bujuk Nita dengan suara serak karena kurang tidur. Aira menggeleng pelan, tangannya meremas selimut rumah sakit yang kasar. “Aku enggak bisa, Nit. Ujian tengah semester udah deket, belum lagi revisi proposal kita. Kalau aku absen lebih lama, aku takut bakal ketinggalan jauh.” “Tapi sekarang yang lebih penting itu kesehatan kamu, Ra! Dan...” Nita menggantung kalimatnya, melirik ke pintu yang tertutup, takut ada yang mendengar rahasia mereka. “...dan juga kandungan kamu.” “Aku bakal istirahat di rumah dan minum obat, aku janji, Nita. Tapi aku harus mulai masuk besok,” potong Aira dengan na
Read More