Sudah beberapa minggu belakangan tubuh Aira terasa berat seperti batu. Ia bangun dengan kepala berputar dan perut melilit. Saat melangkah ke kamar mandi, rasa mual tiba-tiba datang begitu cepat hingga ia harus menunduk di depan wastafel. Air dingin ia guyurkan ke wajah, tapi rasa pusing tak juga hilang.“Mungkin Cuma kecapekan,” katanya pelan pada bayangan sendiri di cermin. Tapi refleksi yang kembali menatapnya terlihat berbeda—pucat, mata sayu, dan kulit wajah yang tampak kehilangan warna. Ia tahu tubuhnya sedang memberi tanda, tapi ia tak tahu apa yang salah.Begitu keluar kamar mandi, Nita yang sedang menuang kopi langsung menatapnya cemas.“Ra, kamu kenapa? Mukamu pucet banget,” katanya.Aira mencoba tersenyum. “Cuma kurang tidur aja, kayaknya.”“Kurang tidur apaan, kamu tidur duluan semalam. Jangan-jangan maag kamu kambuh.”“Enggak, Nit. Beneran Cuma capek.”Nita masih belum yakin, tapi akhirnya menyerah. Ia menyodorkan roti ke arah Aira. “Yaudah, makan dulu. Kalau pingsan di ka
Last Updated : 2026-01-10 Read more