LOGINYang Aira butuhkan hanya satu tahun lagi untuk meraih gelar sarjana. Namun segalanya berantakan sejak malam itu—malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ketika pria asing dari malam itu muncul kembali sebagai dosen barunya yang dikenal dengan citra Sempurna, dunia Aira terguncang seketika. Semakin ia berusaha menjaga jarak, semakin erat takdir mempertemukan mereka.
View MoreDua hari setelah insiden yang meruntuhkan kesadarannya di ruang bimbingan Adrian, Aira duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan wajah yang masih pucat pasi. Nita, yang setia menemani di sampingnya, meletakkan nampan berisi bubur hambar yang nyaris tak tersentuh. “Ra, please kali ini aja, dengerin saran dokter dan aku. Fokus istirahat dulu, minimal seminggu sampai kamu benar-benar pulih total. Ra,” bujuk Nita dengan suara serak karena kurang tidur. Aira menggeleng pelan, tangannya meremas selimut rumah sakit yang kasar. “Aku enggak bisa, Nit. Ujian tengah semester udah deket, belum lagi revisi proposal kita. Kalau aku absen lebih lama, aku takut bakal ketinggalan jauh.” “Tapi sekarang yang lebih penting itu kesehatan kamu, Ra! Dan...” Nita menggantung kalimatnya, melirik ke pintu yang tertutup, takut ada yang mendengar rahasia mereka. “...dan juga kandungan kamu.” “Aku bakal istirahat di rumah dan minum obat, aku janji, Nita. Tapi aku harus mulai masuk besok,” potong Aira dengan na
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Aira. Di depan cermin kamar kos apartemen kecilnya, Aira menatap pantulan wajahnya yang masih tampak pucat pasi seperti kemarin. Ia berkali-kali memulas sedikit perona pipi dan lipstik agar tidak terlihat seperti mayat hidup, namun gurat rasa sakit bercampur lelah itu seolah tetap saja mampu menembus lapisan riasannya.“Ra, aku mohon, sekali ini saja dengerin aku. Kamu enggak usah berangkat,” suara Nita terdengar dari ambang pintu. Sahabatnya itu sudah berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu dengan tangan bersedekap dan wajah penuh kekhawatiran.Aira menghela napas, tangannya masih sibuk merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit longgar dengantangan yang gemetar. “Aku enggak bisa, Nit. Hari ini bagianku yang presentasi. Kalau aku absen, takut berpengaruh sama penelitian kelompok kita.”“Tapi Pak Adrian sendiri yang bilang kemarin, kalau kamu butuh istirahat, kamu enggak perlu datan
Sejak subuh tadi, Aira merasa perutnya menegang tanpa alasan. Bukan sakit, tapi ada tekanan halus yang membuat langkahnya berat sejak ia bangun. Ketika membuka mata, kamar terasa lebih gelap dari biasanya, meski tirai jendela belum sepenuhnya tertutup. Udara kamar pun terasa lebih pengap, seolah dunia enggan memberi ruang baginya untuk bernapas lega.Ia bangkit pelan dan merasakan pusing menyambar begitu telapak kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya menolak untuk tegak, namun ia memaksakan diri.Di kampus, Aira mencoba mengubur Perasaan tak nyaman di tubuhnya. Saat duduk di kelas, ia merasa pusing datang menyergap. Senyum Nita muncul sekilas di tepi penglihatannya, lalu menghilang saat Aira memejamkan mata.“Aira?” bisik Nita pelan. “Kamu sakit?”Aira menggeleng. “Cuma pusing… sedikit.”Nita tidak percaya, tapi ia menahan diri. Ia menggeser botol air ke arah Aira, lalu kembali menatap papan tulis.Aira meminum air itu perlahan, meski mual kemba
Hari-hari setelah ia mendapati dua garis itu, seolah berjalan seperti kabut yang enggan menyingkir. Aira bangun setiap pagi dengan kepala yang jauh lebih berat dan dada yang jauh lebih sesak, seperti ada sesuatu yang menahan napasnya lebih parah daripada saat ia mengetahui kalau Adrian adalah lelaki malam itu dan saat ia menyadari ada tanda-tanda tak biasa pada tubuhnya.Ranjang yang ia tiduri pun tidak lagi terasa hangat atau nyaman—lebih seperti tempat ia menunggu kekhawatiran berikutnya.Semua hal seolah tampak jauh baginya. Hanya satu hal yang selalu terasa dekat: garis merah ganda yang muncul di kepalanya setiap kali ia berhenti sejenak. Seakan bayangan itu menolak pergi.Di kelas, Nita selalu di sampingnya. Sahabatnya itu setiap hari selalu saja menanyakan keadaannya, meski jawaban yang ia berikan selalu sama, tapi sahabatnya itu tak pernah absen bertanya, mungkin sampai rasa curiga dalam hatinya dapat menemui jawab yang tak mengandung dusta.“Ra, kamu kenapa, sih? Sekarang maki
Hari-hari setelah kejadian di klinik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.Setiap pagi, Aira bangun dengan rasa mual yang menjadi lebih sering datang dan pergi tanpa alasan, lelah kian menyerang bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.Rasa berat yang menggantung di belakang mata dan di pangk
Udara kampus memang terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi, menembus kaca jendela koridor fakultas dengan cahaya lembut. Namun bagi Aira, langkah-langkahnya justru terasa dingin dan berat.Sejak undian itu berakhir, dadanya seolah dipenuhi belati yang menusuki. Ia sudah be
Jam berjalan lambat. Setiap menit di kelas hari ini terasa seperti hukuman bagi Aira.Suara Adrian yang menjelaskan teori dan konsep dasar, entah mengapa terasa terlalu dekat, terlalu familiar. Kadang, Aira bahkan bisa mendengar gema napas berat Adrian di telinganya sendiri, seolah ingatan malam it
Aira menghela napas panjang di depan cermin kamarnya. Wajahnya tampak pucat, seolah seluruh darah dalam tubuhnya tersedot keluar bersama rasa sesal yang tak kunjung surut.Matanya sembab, tatapannya kosong, dan kantung hitam menggantung di bawah kelopak—bukti dari malam-malam tanpa tidur yang dihan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.