Sore itu aku sedang membantu pelayan menata camilan di ruang tengah saat suara mobil Andreas terdengar memasuki halaman rumah. Aku langsung berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, Andreas masuk dengan wajah lelah dan aura dingin yang masih terasa kuat. Namun saat melihatku…Ekspresinya langsung sedikit melunak. Aku tersenyum kecil."Selamat datang."Belum sempat aku berkata lagi, Andreas langsung menarikku ke pelukannya. Erat. Sangat erat. Aku bahkan bisa merasakan napas beratnya di pundakku. Aku mengusap punggungnya pelan."Kamu kenapa?"Andreas memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya melepaskan pelukan. Wajahnya masih terlihat kesal."Ada masalah lagi di kantor?"Andreas akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Alina yang masuk ke ruangannya membawa makan siang.Tentang bagaimana gadis itu mencoba mencari perhatian. Dan bagaimana ia sampai harus membentak Alina keluar. Semakin mendengar cerita itu, dadaku justru terasa tidak nyaman. Aku memang percaya penuh pada Andreas.
Read more