LOGINNana hidup dalam kegelapan ketika ia memergoki tunangannya, Dikta, berselingkuh—bukan hanya dengan wanita lain, tapi dengan adiknya sendiri. Dalam keputusasaan, ia menyerahkan dirinya pada seorang pria asing, sebuah keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, takdir menimpanya ke dalam tragedi: kecelakaan yang membuatnya koma selama tiga bulan. Saat sadar, ia menghadapi kenyataan pahit—hamil, kehilangan ingatan, dan percaya bahwa anak yang dikandungnya adalah milik Dikta. Dikta, yang sejak awal hanya mengincar warisan Nana, dengan mudah mengakuinya, sementara cinta dan perhatian hanyalah kata-kata kosong. Pernikahan mereka menjadi neraka bagi Nana, hidup dalam kepalsuan dan penderitaan. Segalanya berubah ketika Andreas, pria yang sebenarnya adalah ayah dari bayi dalam kandungannya, muncul kembali. Selama ini Andreas tak pernah berhenti mencari Nana. Bersamanya, Nana menemukan cinta sejati, kemewahan, dan kasih sayang yang selama ini hilang. Bersama Andreas, ia juga merencanakan balas dendam terhadap mereka yang pernah menyakitinya, menutup luka lama dengan kekuatan dan kemuliaan. Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, kehilangan ingatan, dan kebangkitan dari kepedihan untuk menemukan kebahagiaan sejati.
View More“Kamu pilih saja yang kamu suka, Sayang. Aku sedang sibuk sekali. Aku percayakan semuanya padamu.”
Pesan singkat itu muncul di layar ponsel Nana, bersamaan dengan suara notifikasi yang dingin—nyaring, tapi terasa menusuk jantungnya. Ia menatap lama tulisan itu, matanya kehilangan cahaya, bibirnya membentuk senyum getir yang bahkan ia sendiri tak sadar tengah ia paksakan. “Selalu sibuk…” bisiknya pelan. Hari ini seharusnya jadi momen bahagia—hari di mana seorang calon pengantin memilih gaun impian sambil tersenyum cerah. Tapi butik mewah ini terasa kosong dan dingin. Tak ada tawa, tak ada tatapan hangat. Hanya ia, dan bayangan dirinya sendiri di cermin. Dikta, tunangannya, kini seorang manajer di perusahaan besar. Sejak itu, ‘sibuk’ menjadi alasan suci yang menenggelamkan semua janji manis mereka. “Silakan dicoba, Nona,” sapa seorang pelayan butik ramah, membuyarkan lamunannya. Wanita paruh baya itu menyodorkan sebuah gaun putih yang memantulkan cahaya lembut di bawah lampu kristal. Kainnya jatuh elegan, lembut bagai air yang mengalir. “Sederhana, tapi anggun,” ujar pelayan itu dengan tulus. “Seolah dibuat hanya untuk Anda.” Nana menyentuhnya pelan, jemarinya menelusuri renda di bagian lengan. Dalam cermin, ia melihat sosok yang cantik, tapi matanya kosong. Gaun itu indah—namun bukan kebahagiaan yang ia lihat di sana, melainkan kehampaan. “Cantik sekali, bukan?” tanya pelayan itu. “Iya…” Nana menunduk pelan. “Cantik.” Senyumnya samar, lalu ia menambahkan dengan suara hampir tak terdengar, “Terima kasih. Saya ambil yang ini.” Pelayan itu tersenyum hangat. “Calon suami Anda pasti sangat beruntung memiliki Anda.” Nana hanya menjawab dengan senyum kecil. Dalam hati, ia bergumam lirih—andai saja dia punya waktu untuk melihatku hari ini. Sore itu, langit Kota Andara berwarna jingga lembut. Udara hangat menyapu lembut kulitnya saat ia melangkah keluar dari butik. Tapi hatinya terasa dingin. Pesan terakhir Dikta masih terbuka di layar ponselnya. “Aku percayakan semuanya padamu…” ia mengulang kalimat itu getir. “Atau kau cuma tak peduli lagi?” Langkahnya terhenti di depan toko bunga kecil di sudut jalan. Aroma mawar merah yang semerbak membuatnya berhenti. Ia melangkah masuk, disambut denting lonceng kecil di atas pintu. “Mawar merah,” ujarnya lembut. “Yang paling segar. Buatkan satu buket, ya.” Pelayan toko tersenyum dan mulai menata bunga-bunga. Nana ikut membantu, tapi saat tangannya mencoba membetulkan posisi tangkai, duri tajam menusuk jarinya. “Aduh!” serunya lirih. Setetes darah muncul di ujung jarinya. “Maaf, Kak, hati-hati. Duri mawar memang suka bersembunyi,” ujar pelayan itu cepat sambil menyodorkan tisu. Nana menatap darah di jarinya, lalu tersenyum samar. “Iya… seperti duri yang selalu tersembunyi di balik keindahan.” Ada firasat aneh yang bergetar di dadanya. Perasaan dingin, samar—seperti pertanda buruk. Dan ia belum tahu, betapa benar firasat itu. Mobil Nana melaju membelah jalanan kota. Senja berganti malam, lampu-lampu mulai menyala. Tapi hatinya bergemuruh. Buket mawar merah di kursi penumpang tampak begitu kontras di antara kegelapan. “Kenapa perasaanku nggak enak begini…” gumamnya lirih, menggenggam setir erat. Sesampainya di basement apartemen Dikta, langkahnya terasa berat. Setiap denting langkah bergema di lorong sunyi. Lift terbuka, dan lorong panjang di depan matanya terasa terlalu sepi… terlalu sunyi. Lalu— Sebuah suara terdengar dari arah apartemen Dikta. “Kamu yakin main di sini? Kalau Nana datang gimana?” suara perempuan. Terlalu familiar. Suara Dikta menyusul, rendah tapi jelas, “Tenang aja. Dia pasti masih di butik. Kamu tahu sendiri kan kakakmu itu? Selalu lama kalau disuruh milih.” Nana membeku. Matanya mulai panas. Suara tawa itu—suara adiknya sendiri. Maudy. “Si lembut yang bodoh,” ucap Maudy disertai tawa kecil. Darah Nana mendidih. Tangannya bergetar saat menyentuh gagang pintu. Nafasnya berat, matanya berair, tapi hatinya dingin. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka pintu. Dan dunia runtuh. Maudy duduk di pangkuan Dikta, keduanya tanpa sehelai benang pun, tertawa seperti sepasang kekasih sejati. Buket mawar di tangan Nana jatuh berantakan ke lantai—kelopak merah berserakan, seolah menumpahkan darahnya sendiri. Dikta membeku. Maudy menjerit kecil. “Nana—ini nggak seperti yang kamu lihat!” Dikta bersuara terbata. Nana melangkah maju, wajahnya memucat tapi matanya menyala. Tamparan keras mendarat di pipi Dikta, menggema di seluruh ruangan. “Bajingan!” Maudy mencoba mendekat, “Kak, tolong dengar dulu. Kami cuma—” “DIAM KAMU, PENGKHIANAT!” suara Nana pecah, histeris. Ia menampar wajah Maudy keras-keras. Maudy balas menatap tajam, suaranya meninggi. “Selalu Kak Nana yang sempurna! Yang disayang semua orang! Apa salahku kalau aku juga mau bahagia?!” Dikta langsung menampar Maudy, “Diam! Jangan tambah parah!” Nana menatap keduanya dengan jijik. “Kalian pantas untuk saling menghancurkan.” Air matanya jatuh deras, tapi nadanya tegas. “Pernikahan ini… batal.” “Nana! Jangan lakukan ini, Sayang!” Dikta berlutut, meraih tangannya dengan panik. “Aku khilaf, aku mohon… aku cinta kamu!” Nana menatapnya dingin. “Cinta?” ia menarik tangannya kasar. “Cinta yang kau buktikan di atas tubuh adikku sendiri?” Dikta terdiam, matanya memohon. Tapi Nana sudah selesai. “Semua berakhir di sini.” Ia berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Mawar merah di lantai menjadi saksi bisu kebohongan yang terbongkar. Begitu pintu tertutup, Maudy mendekat ke Dikta yang masih tertegun. “Biarin aja dia pergi. Kita bisa nikah, kan, Kak? Aku cinta Kakak.” Dikta menatapnya dingin, lalu mendorongnya kasar. “Kamu gila?! Aku nggak bisa kehilangan Nana!” Maudy terkejut. “Kenapa? Apa yang dia punya dan aku nggak punya?” “Segalanya,” gumam Dikta pelan tapi penuh kebencian. “Jabatan, koneksi, semua yang aku punya sekarang karena dia! Kalau pernikahan ini batal, aku juga kehilangan pekerjaanku!” Wajah Maudy menegang. “Jadi... kamu cinta aku atau dia?” Dikta menatapnya dengan tawa sinis. “Cinta atau nggak cinta, itu urusan belakangan. Aku cuma ambil apa yang menguntungkan.” Air mata Maudy jatuh. Ia berbisik pelan, getir, “Aku cuma mau jadi seperti dia.” Dikta menatapnya tajam. “Kamu bukan dia. Kamu nggak akan pernah sebanding dengan Nadira Seraphine.” Dan di saat itu, kebencian baru tumbuh di hati Maudy—tajam seperti duri di balik mawar.Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad
Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan
“Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila
Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.