"Seharusnya akulah yang terbaring di ruang operasi sekarang.""Dengan begitu, kalian baru merasa puas.""Kiana!" Tristan menatapnya tajam. Matanya merah. Dia tidak mengizinkan wanita itu mengucapkan kata-kata seperti itu, tetapi dia sangat bimbang dan tertekan saat ini. "Kumohon, biarkan aku tenang sejenak, oke?"Kiana mundur selangkah, lalu selangkah lagi, dan terus mundur. Jarak mereka berdua kini makin menjauh."Tristan, aku nggak menyangka kita akan menjadi seperti ini."Takdir memang suka mempermainkan manusia.Tristan memperhatikan Kiana makin menjauh hingga jaraknya tidak tertahankan lagi. Pria itu lalu berbalik dan masuk ke dalam. Dia sedang melarikan diri, tetapi untuk saat ini, melarikan diri adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.Sesampainya di kediaman Januar, Kiana berdiri di tangga untuk waktu yang sangat lama, sampai Ishan kembali.Wajah Ishan tampak kuyu, seolah hanya dalam sekejap, usianya telah bertambah beberapa tahun. Langkahnya juga gontai.Kali ini, Kiana tida
Baca selengkapnya