"Pokoknya, Tristan, sebagai pamanmu dan orang yang lebih tua darimu, aku mau kamu segera menceraikan wanita ini. Kamu ...."Sebelum Dion selesai berbicara, ponselnya telah berdering.Saat dia mengeluarkannya dan melihatnya, wajahnya langsung pucat pasi."Um, aku pergi ke toilet dulu."Dia hendak berdiri, tetapi Tristan meliriknya dan mengetuk meja dengan jari telunjuknya."Angkat di sini saja.""Masalah kantor ....""Jadi, kenapa nggak diangkat di sini saja?"Dion mengerutkan bibir. Seakan takut rencananya terbongkar, dia pun duduk kembali, menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya, berpura-pura dengan tenang menjawab telepon."Sekretaris Cahyadi, aku lagi makan malam di rumah sekarang. Kalau nggak ada hal mendesak, aku akan telepon balik nanti."Kiana mengusap dahinya. Apa dia benar-benar berpikir bahwa tidak ada yang tahu siapa yang meneleponnya?"Ayah, tolong aku! Gudangnya terbakar dan aku terkunci di dalam!"Suara Michael terdengar dari ujung telepon. Dion terkejut sejenak,
Read more