Malam di penthouse terasa seperti keabadian yang membeku. Kiara berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit, menatap lampu-lampu kota Oakhaven yang tampak seperti butiran berlian yang tak terjangkau.Di luar sana, kehidupan terus berjalan, namun di dalam sini, udara terasa berat dan menyesakkan. Sistem penguncian otomatis di pintu utama sesekali mengeluarkan bunyi desis pendek, seolah mengingatkan Kiara bahwa ia adalah tawanan paling mewah di dunia.Dia lalu melirik jam dinding. Sudah lewat pukul tiga pagi, dan Julian belum kembali dari ruang kendali atau kantor pusatnya.“Nona Kiara, Anda harus makan sedikit. Saya sudah menyiapkan sup hangat,” suara Max terdengar dari arah dapur.Pria itu tidak pernah benar-benar meninggalkannya sendirian. Selalu ada jarak lima meter yang dijaga ketat.Kiara berbalik, matanya sembap. “Bagaimana aku bisa makan, Max? Ibuku sedang berjuang hidup, dan aku bahkan tidak tahu apakah dia masih bernapas sekarang. Kau punya akses ke rumah sakit, kan?
Terakhir Diperbarui : 2026-03-01 Baca selengkapnya