LOGINKiara Devina, 23 tahun, karyawan magang yang hidupnya sederhana dan nyaris putus asa. Ketika tagihan menumpuk dan ancaman penggusuran menghantui, satu tawaran terlarang datang — dari pria yang seharusnya tak boleh ia dekati. Julian Romanov, 33 tahun. CEO tampan, kejam, dan berbahaya. Baginya, Kiara hanyalah pelarian dari rutinitas dan tekanan, hingga malam pertama mereka membuatnya kehilangan kendali. Ciuman panas, godaan di balik pintu kantor, hingga malam-malam di penthouse mewah membuat Kiara lupa bahwa ia hanya seorang sugar baby — pemuas nafsu yang dibayar mahal. Namun di balik kenikmatan dan hadiah-hadiah mewah itu, perlahan Julian mulai kehilangan arah. Ia menginginkan Kiara sepenuhnya meski itu berarti mengkhianati tunangannya dan mempertaruhkan segalanya. Sementara Kiara, yang awalnya hanya ingin uang, kini terjebak dalam permainan berbahaya antara cinta, hasrat, dan rahasia. Dan ketika api nafsu mulai berubah menjadi obsesi, hanya satu hal yang pasti—seseorang akan terbakar habis.
View More“Kiara? Kau pulang, Nak?” suara lemah itu terdengar dari kamar utama yang pintunya terbuka sedikit.Kiara segera mendekat, lalu menyimpan kantong berisi obat-obatan mahal dari apotek pusat ke atas meja kayu tua. “Iya, Bu. Aku membawakan obat baru yang diresepkan dokter spesialis minggu lalu.”Melisha mencoba duduk di tempat tidurnya yang sederhana. Wajahnya pucat, matanya sayu, namun ia tersenyum. “Obat ini pasti mahal sekali. Kau tidak perlu memaksakan diri, Kiara. Pekerjaanmu sebagai sekretaris, apakah gajinya cukup?”Kiara menelan ludah, dan tangannya bergetar saat menuangkan air putih. “Cukup, Bu. Tuan Julian sangat baik. Dia memberikan bonus karena kinerjaku.”Tepat saat Kiara menyerahkan gelas itu, suara deru mesin mobil yang sangat halus namun bertenaga berhenti di depan halaman rumah yang berdebu.Bunyi pintu mobil mewah yang tertutup dengan dentuman solid memecah kesunyian lingkungan itu. Kiara membeku.Klik. Klik. Klik.Suara sepatu hak tinggi menghantam lantai teras yang re
Apartemen mewah milik Julian di jantung Oakhaven biasanya terasa sunyi dan luas, namun pagi ini, ruang tamu utama berubah menjadi sesak oleh kehadiran orang-orang asing.Kiara berdiri di tengah ruangan, merasa sangat kecil di bawah lampu kristal yang berkilauan.Dia mengira Julian akan membawanya ke butik ternama di pusat kota, namun pria itu justru mendatangkan Madame Valeska, desainer haute couture yang namanya hanya pernah Kiara lihat di majalah mode kelas atas beserta tiga asistennya ke apartemen.“Berdiri tegak, Nona. Jangan membungkuk,” Madame Valeska memberikan instruksi dengan suara yang tajam sambil memutari tubuh Kiara.Julian duduk di sofa kulit hitam di sudut ruangan dengan kakinya bersilang angkuh.Di tangannya memegang segelas wiski krista dan membiarkan es batu berdenting pelan saat dia menyesapnya.Matanya yang gelap tidak pernah lepas dari Kiara, mengamati setiap inci tubuh gadis itu seolah sedang menilai kualitas sebuah karya seni.“Tuan Julian, apakah Anda yakin den
Ruang konferensi utama di lantai tertinggi gedung Romanov Group tampak seperti arena gladiator yang dilapisi kaca dan baja. Cahaya matahari musim dingin Oakhaven menembus jendela-jendela besar, menyinari meja ek oval yang dikelilingi oleh pria dan wanita paling berpengaruh di kota itu.Di ujung meja, Natasha duduk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran kecil. Dia mengenakan setelan tweed putih yang memancarkan aura kemurnian yang palsu.Kiara berdiri di sudut ruangan sambil memegang tablet digital dengan jari-jari yang kaku. Tugasnya sederhana: mencatat notulen.Namun, berat kunci perak pemberian Max di dalam saku blazernya terasa seperti bongkahan timah yang terus mengingatkannya pada posisinya yang berbahaya.“Baiklah, semuanya,” Natasha memulai, suaranya jernih dan penuh percaya diri lalu melirik Kiara sekilas, senyum tipis penuh kemenangan tersungging di bibirnya.“Sebagai penutup agenda koordinasi Gala Charity tahunan, aku telah menyusun daftar tamu
Satu minggu telah berlalu sejak insiden di Hotel Romanov Plaza, namun atmosfer di kantor pusat tidak kunjung mendingin.Teror dari Natasha melambat secara fisik, namun secara psikologis, Kiara merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang siap retak kapan saja.Pagi ini, kantor terasa lebih sunyi dari biasanya karena Julian harus menghadiri pertemuan darurat dengan dewan direksi di pinggiran kota Oakhaven.Hanya ada Kiara dan Max di lantai teratas. Max sedang sibuk menata beberapa dokumen di meja Julian, sementara Kiara mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan surel. Namun, dia bisa merasakan mata Max sesekali tertuju padanya.“Nona Kiara,” panggil Max pelan. Suaranya yang biasanya formal kini terdengar sedikit lebih berat.Kiara mendongak lalu merapikan letak kacamatanya. “Ya, Max? Ada berkas yang kurang?”Max tidak menjawab. Dia justru berjalan menuju pintu balkon kantor yang luas dan membukanya, membiarkan angin dingin Oakhaven menyapu ruangan yang kedap udara itu.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews