FAZER LOGINKiara Devina, 23 tahun, karyawan magang yang hidupnya sederhana dan nyaris putus asa. Ketika tagihan menumpuk dan ancaman penggusuran menghantui, satu tawaran terlarang datang — dari pria yang seharusnya tak boleh ia dekati. Julian Romanov, 33 tahun. CEO tampan, kejam, dan berbahaya. Baginya, Kiara hanyalah pelarian dari rutinitas dan tekanan, hingga malam pertama mereka membuatnya kehilangan kendali. Ciuman panas, godaan di balik pintu kantor, hingga malam-malam di penthouse mewah membuat Kiara lupa bahwa ia hanya seorang sugar baby — pemuas nafsu yang dibayar mahal. Namun di balik kenikmatan dan hadiah-hadiah mewah itu, perlahan Julian mulai kehilangan arah. Ia menginginkan Kiara sepenuhnya meski itu berarti mengkhianati tunangannya dan mempertaruhkan segalanya. Sementara Kiara, yang awalnya hanya ingin uang, kini terjebak dalam permainan berbahaya antara cinta, hasrat, dan rahasia. Dan ketika api nafsu mulai berubah menjadi obsesi, hanya satu hal yang pasti—seseorang akan terbakar habis.
Ver mais“Kalau pembayaran tidak dilakukan besok, kami terpaksa harus menghentikan pengobatannya dulu, Nona Kiara.”
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang mengiris jantungnya tanpa ampun. Dunia Kiara Devina seolah berhenti berputar sesaat. Napasnya tersangkut di tenggorokan, dadanya sesak, dan telapak tangannya yang dingin bergetar hebat.
Ruangan putih rumah sakit yang biasanya menenangkan kini terasa seperti penjara dingin yang perlahan menghimpit dari segala arah.
Dokter di hadapannya menatapnya dengan ekspresi canggung—antara iba dan profesionalitas yang harus dijaga. Tapi bagi Kiara, kata-kata barusan terdengar seperti vonis mati.
Ia memalingkan pandangan, tak sanggup menatap wajah sang ibu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tubuh wanita itu tampak semakin menyusut, pipinya tirus, dan napasnya teratur pelan-pelan melalui selang oksigen. Infus yang menancap di tangan kirinya membuat hati Kiara mencelos setiap kali menatapnya.
Air mata menetes tanpa izin, jatuh di ujung dagunya. Hatinya bergetar saat memandang sosok yang selama ini menjadi alasan ia kuat bertahan.
Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah ayahnya meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan kerja. Sejak itu, hidup mereka berubah drastis—dari rumah kecil yang hangat menjadi kamar kontrakan sempit di pinggiran kota.
Ibunya berjuang keras, menjahit pakaian siang malam agar mereka bisa makan, sampai akhirnya penyakit itu datang: gagal ginjal kronis yang perlahan menggerogoti tubuhnya.
“Berapa tagihan yang harus aku bayar, Dokter?” tanya Kiara dengan suara bergetar, berusaha menahan isak yang hampir pecah.
“Lima puluh juta, Nona Kiara,” jawab sang dokter pelan.
“Sudah dua minggu ibu Anda dirawat di sini, dan belum pernah Anda bayar sama sekali. Jadi, besok malam adalah hari terakhir jika ibu Anda masih ingin dirawat di sini.”
Angka itu bergema di kepalanya seperti palu yang terus menghantam tanpa henti. Tubuhnya terasa ringan, tapi bukan karena lega—melainkan karena semua tenaga seakan tersedot keluar dari tubuhnya.
Jika ibunya dipulangkan, apa yang akan terjadi? Dia tahu kondisi sang ibu belum stabil. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk dirawat di rumah. Tapi rumah sakit menolak tanpa pembayaran.
Ke mana lagi dia harus mencari uang sebesar itu dalam waktu satu hari?
Gajinya sebagai karyawan magang di Romanov Group bahkan belum cair. Dan itu pun, nominalnya tak seberapa dibandingkan tagihan yang menumpuk.
Ia sudah mencoba meminjam ke teman-temannya, tapi hampir semua menolak halus, mengeluh sedang kesulitan juga.
Dengan langkah gontai, Kiara keluar dari ruang dokter. Matanya bengkak, kepalanya berat. Dia berhenti sejenak di koridor rumah sakit yang sunyi, menatap ke arah jendela besar di ujung lorong.
“Aku harus kuat,” gumamnya pelan.
Dia menggenggam tasnya erat-erat, seolah dari genggaman itu dia bisa mendapatkan kekuatan baru.
“Kalau aku tidak bekerja, aku tidak akan punya uang. Kalau aku tidak punya uang, aku akan kehilangan Ibu,” katanya lirih, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.55 pagi. “Astaga! Rapat lima menit lagi!” seru Kiara spontan.
Jantungnya berdetak kencang karena panik menyerangnya. Dengan langkah tergesa, dia hampir menumpahkan kopinya saat berlari menuju lift.
Begitu sampai di lantai 45, pintu ruang rapat sudah setengah tertutup. Dari celahnya, dia bisa mendengar suara-suara rendah dan tegas para eksekutif yang sudah berkumpul. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum mendorong pintu.
Begitu masuk, semua mata langsung beralih padanya.
Dan di ujung meja, duduk Julian Romanov.
Pria berusia 33 tahun itu memutar pena di antara jemarinya dengan santai, tapi auranya begitu kuat hingga seolah memenuhi seluruh ruangan.
Tingginya lebih dari 185 cm, tubuhnya tegap dalam jas hitam mahal yang disetrika sempurna. Rambutnya tersisir rapi, rahangnya tegas, dan sorot matanya yang tajam seperti elang yang tengah menilai mangsanya.
Tatapannya beralih ke arah Kiara. Tatapan yang dingin, menusuk, dan membuat siapa pun sulit bernapas. Mata abu-abu itu menelusuri Kiara dari ujung kepala hingga kaki.
“Maaf, aku—”
Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya, cangkir kopi di tangannya terguncang. Semua terjadi begitu cepat.
Satu langkah kecil yang salah, satu getaran gugup di ujung jarinya—dan bencana itu pun terjadi.
Cairan kopi yang masih panas tumpah, mengalir dari bibir cangkir, menetes ke meja, lalu jatuh tepat di sisi kanan jas mahal yang dikenakan Julian Romanov.
Sunyi.
Semua orang yang berada di ruang rapat itu menahan napas. Tatapan mereka saling bertukar panik.
Seorang manajer senior spontan menutup wajahnya dengan tangan, sementara asisten pribadi Julian membeku di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa.
Kiara terpaku.
Wajahnya langsung pucat pasi, darah seolah berhenti mengalir. Tangannya yang masih memegang cangkir kosong bergetar hebat, seakan benda itu kini menjadi beban yang sangat berat.
Hatinya berdegup begitu kencang sampai terasa menyakitkan di dada. Ia tahu, ia baru saja melakukan kesalahan terburuk dalam hidupnya.
“Astaga! Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja—”
Julian sontak menatapnya.
Tatapan itu. Tatapan dingin yang selama ini hanya Kiara lihat dari jauh—kini menembus langsung ke dalam dirinya.
Julian perlahan meraih sapu tangan putih dari sakunya dan menepuk sisi jasnya yang terkena noda kopi, lalu meletakkan sapu tangan itu di atas meja tanpa sepatah kata pun.
“Keluarlah,” katanya datar.
Kiara membeku di tempat. “Ta-tapi, Tuan. Aku harus mengikuti rapat penting ini—”
“Bagaimana kau bisa fokus jika berjalan saja masih melakukan kesalahan?” katanya tanpa meninggikan suara, tapi setiap katanya terasa seperti tamparan keras.
Ruangan seolah menyusut.
Kiara, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun, karyawan magang yang bahkan belum genap dua bulan bekerja di Romanov Group, berdiri kaku di depan seluruh jajaran manajer senior dan direktur.
“Rapat akan segera dimulai,” lanjut Julian dengan nada yang nyaris tanpa emosi, “dan aku tidak ingin ada satu pun yang membuat rapat ini jadi kacau.”
Kata-kata itu menjadi tanda berakhirnya segalanya. Tidak ada ruang untuk penjelasan. Tidak ada kesempatan kedua untuk Kiara.
“Kiara, sebaiknya keluar sekarang,” ucap Max—asisten pribadi Julian—dengan suara hati-hati.
Wajahnya menunjukkan rasa iba yang sulit disembunyikan. Ia tahu Julian tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun, apalagi yang melibatkan dirinya secara langsung.
Kiara menatap Max dengan mata berkaca-kaca.
Dia ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa pagi ini adalah pagi yang kacau, tapi bibirnya kelu.
Dan pada akhirnya, dia hanya bisa menunduk dan mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Langkahnya terasa berat saat berjalan keluar. Tidak ada satu pun yang berani menatapnya lama-lama, seolah ketakutan mereka pun bisa menular.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Kiara bersandar di dinding koridor yang dingin.
Tubuhnya bergetar hebat, dan akhirnya air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menetes satu per satu.
Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isaknya tak terdengar—tapi justru suara itu menggema samar melewati celah pintu yang belum tertutup rapat sempurna.
Tangisnya pelan, tapi nyata.
Dan tanpa dia sadari, beberapa kepala di dalam ruang rapat sempat saling bertukar pandang. Mereka mendengar semuanya, termasuk Julian.
Namun tak satu pun berani membuka suara.
Di luar, Kiara berlutut perlahan di ujung lorong sambil menggenggam cangkir kertas yang kini hancur remuk di tangannya.
“Astaga … kau ceroboh sekali, Kiara,” gumamnya di antara isak.
“Kenapa melakukan kesalahan yang sangat berat seperti ini? Kalau kau dipecat, siapa yang akan melunasi tagihan ibumu?”
Lorong sayap medis privat di kediaman Oakhaven Ridge tampak seperti zona perang yang sunyi. Julian Romanov berdiri di samping tempat tidur persalinan, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat dengan rahang yang mengeras.Ia tidak mengenakan jas; kemejanya berantakan dengan kancing atas yang terbuka, dan lengan bajunya digulung kasar.Tangannya mencengkeram erat tangan Kiara, seolah-olah kekuatan fisiknya bisa membantu wanita itu menanggung rasa sakit yang luar biasa.“Tuan Romanov, kami mohon Anda menunggu di luar. Ruangan ini harus tetap steril dan tim medis membutuhkan ruang gerak,” ucap Dokter Aris dengan nada setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.“Aku tidak akan pergi ke mana pun,” desis Julian. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.“Lakukan tugasmu, Dokter. Pastikan istriku selamat, atau kau akan menyesal pernah mengambil sumpah medis.”Kiara mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung saat kontraksi hebat kembali menghantam
Lonceng Katedral Oakhaven berdentang dua belas kali, suaranya yang berat dan agung bergema di seluruh penjuru kota, membelah kebisingan ribuan orang yang berkumpul di luar pagar besi gereja tua tersebut.Di dalam katedral, suasana begitu kontras; sunyi, sakral, dan sarat dengan ketegangan yang elegan. Wangi bunga lili putih dan ratusan lilin lebah memenuhi ruangan beratap tinggi dengan jendela kaca patri yang menampilkan sejarah kemenangan dan penderitaan.Di barisan kursi terdepan, duduk para tokoh paling berpengaruh di dunia.Para diplomat, CEO teknologi, hingga anggota keluarga kerajaan dari negara tetangga hadir bukan hanya untuk sebuah seremoni, melainkan untuk menyaksikan secara langsung siapa wanita yang berhasil menjinakkan “Sang Tiran” Julian Romanov.Mereka berbisik pelan, mengamati setiap gerak-gerik Julian yang sudah berdiri di depan altar dengan ekspresi yang sangat terkontrol, namun rahangnya tampak mengeras setiap kali matanya melirik ke arah pintu besar katedral.“Tuan
Oakhaven tidak pernah sesibuk ini dalam satu dekade terakhir. Bendera-bendera dengan lambang singa Romanov berkibar di sepanjang jalan protokol, dan hotel-hotel bintang lima telah penuh dipesan oleh tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru dunia.Media internasional melabeli acara besok sebagai “Pernikahan Abad Ini” sebuah penyatuan yang tidak hanya melambangkan cinta, tetapi juga stabilitas baru bagi imperium ekonomi Romanov yang sempat terguncang.Di dalam kantor yayasan Romanov, Kiara sedang meninjau laporan akhir program rehabilitasi kesehatan untuk sektor buruh. Ia tampak sangat berbeda dari gadis yang dulu sering menunduk ketakutan.Mengenakan setelan blazer berwarna gading yang elegan, dengan rambut yang disanggul rapi, ia memancarkan aura otoritas yang tenang. Perutnya kini sudah mulai membuncit di balik pakaiannya, namun hal itu tidak menghalangi produktivitasnya.“Nona Kiara, perwakilan dari WHO ingin mengonfirmasi kehadiran Anda di simposium bulan depan,” ucap sekretarisny
Persiapan untuk perjalanan keliling dunia seharusnya menjadi prioritas utama di penthouse Oakhaven Ridge, namun suasana pagi itu terasa berbeda. Koper-koper mewah yang sudah terbuka di sudut kamar utama masih tampak kosong.Kiara duduk di tepi ranjang, wajahnya sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Aroma parfum maskulin Julian yang biasanya ia sukai, pagi ini terasa seperti racun yang memicu gejolak hebat di perutnya.Julian masuk ke kamar dengan langkah terburu-buru, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia langsung berlutut di depan Kiara, menggenggam tangan wanita itu yang terasa dingin dan lembap.“Masih mual?” tanya Julian, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan.Kiara hanya mengangguk lemah, menutup mulutnya dengan punggung tangan.“Hanya pusing sedikit, Julian. Mungkin aku terlalu bersemangat memikirkan perjalanan kita besok. Atau mungkin makanan di jamuan makan malam kemarin tidak cocok denganku.”“Ini sud
Lampu flash kamera menyambar tanpa henti, menciptakan efek stroboskopik yang menyilaukan di dalam aula utama Romanov Tower.Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional telah berkumpul, memenuhi setiap kursi yang tersedia.Atmosfer di dalam ruangan terasa berat oleh spekulasi; se
Aroma khas rumah sakit yang menindas perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan para perawat yang mulai melepas kabel-kabel monitor di ruangan Melisha. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari wajah Melisha yang kini tampak jauh lebih segar.Warna kulitnya yang semula pucat pasi perla
“Kau membenci perasaan karena kau pikir itu membuatmu lemah, Julian,” ucap Kiara, dan suaranya kini lebih stabil namun penuh penekanan. “Tapi kau tahu siapa yang paling hancur karena menahan perasaan itu? Kevin. Kakakmu sendiri.”Julian melepaskan botol wiski itu, dan rahangnya langsung mengeras me
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela penthouse, namun suasana di dalam ruangan masih terasa sisa-sisa kegelapan semalam.Julian sudah bangun lebih awal. Ia tidak berada di tempat tidur, melainkan berdiri di balkon luas yang menghadap langsung ke jantung kota Oakhaven.Meskipun jaru


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações